Sampang, angkatberita.id -Penghargaan yang diterima Desa Karang Penang Oloh Kecamatan Karang Penang Kabupaten Sampang Jawa Timur di bidang kesehatan tampaknya tidak sepenuhnya disambut dengan kebanggaan oleh warganya sendiri.
Pasalnya, penghargaan itu bukan diberikan karena keberhasilan program atau capaian penurunan angka stunting, melainkan semata karena tingginya alokasi anggaran sektor kesehatan dibanding desa lainnya.
Fakta ini memicu reaksi dari warga dan sejumlah aktivis lokal, mereka menilai penghargaan tersebut tak sebanding dengan realita pelayanan kesehatan di lapangan.
Kondisi Posyandu yang masih terbatas, petugas yang tak konsisten hadir, hingga minimnya penyuluhan gizi dan kesehatan ibu-anak menjadi sorotan publik.
“Kami ingin tahu, dana kesehatan yang katanya besar itu dipakai untuk apa saja? Karena yang kami rasakan, programnya begitu-begitu saja,” ujar Hasib , tokoh pemuda setempat, Minggu (13/7).
Desakan agar Pemerintah Desa Karang Penang Oloh membuka laporan anggaran dan realisasi program sektor kesehatan secara terbuka pun semakin kuat, warga meminta agar dana publik tidak hanya dilaporkan dalam bentuk angka formal di musyawarah desa, tapi ditampilkan secara transparan dan dapat diakses publik.
Ketua LSM Jaringan Transparansi Desa (JTD), Ahmad Wirno, menilai bahwa penghargaan berbasis nominal anggaran tanpa mengevaluasi dampak lapangan sangat berisiko, ia menyoroti potensi manipulasi data atau alokasi yang tidak sesuai kebutuhan masyarakat.
“Kalau desa lain mengalokasikan dana kecil tapi berhasil menurunkan stunting, dan Karang Penang Oloh hanya unggul di angka tapi tak berdampak nyata, maka ini bisa dikategorikan sebagai ilusi prestasi,” kata Wirno.
JTD menyatakan akan mengirim surat resmi ke Inspektorat Sampang dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) untuk mendorong audit khusus penggunaan anggaran kesehatan tahun berjalan. (Red)






Komentar