Kepanasan Saat Namanya Dicatut Seorang Pedangang Rokok “Klarifikasi Tak Menyelamatkan Citra”

- Redaksi

Jumat, 10 Oktober 2025 - 20:23 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pamekasan ( ANGKAT BERITA) – Dunia usaha di Pamekasan mendadak panas setelah seorang pedagang rokok kecil menyebut dua nama tokoh berpengaruh saat didatangi petugas cukai.

Ucapan spontan itu kemudian berujung pada terbitnya surat klarifikasi dari pedagang yang bersangkutan, yang menyatakan penarikan kembali ucapannya dengan alasan panik dan takut.

Namun, langkah klarifikasi tersebut justru memunculkan gelombang tafsir baru di tengah publik, bukan hanya soal ucapan pedagang kecil itu, melainkan reaksi cepat dari pihak-pihak yang merasa namanya terseret.

Menurut Syahrial, Pemerhati Kajian Publik, fenomena ini menunjukkan betapa sensitifnya hubungan antara kekuasaan, uang, dan rasa takut dalam masyarakat.

“Menariknya, reaksi cepat justru sering muncul dari pihak-pihak yang menganggap namanya tercatut, kalau memang bersih, publik tentu bisa menilai dengan sendirinya, kadang, kepanikan bukan datang dari yang kecil, tapi dari bayangan besar yang merasa terusik,” ujarnya, Jumat (10/10).

Baca Juga :  Swadaya, Mayarakat Jurang Dalam Desa Dampo Barat Membuat Drainase

Madura sendiri dikenal sebagai wilayah dengan peredaran rokok ilegal yang cukup tinggi, razia berkali-kali dilakukan oleh petugas cukai dan aparat daerah, tetapi yang sering tersentuh justru pedagang kecil di pelosok desa, sementara jaringan besar kerap tak tersentuh.

“Rakyat kecil berjualan karena ingin hidup, ketika aparat datang, mereka mudah jadi sasaran. Tapi saat nama besar ikut disebut, barulah muncul klarifikasi dengan narasi ketakutan, publik pasti bisa membaca situasi ini,” sindir Syahrial.

Baca Juga :  Wibawa dan Kendali DPRKP Pamekasan dipertanyakan, Pelaksana Proyek SPAM Abaikan Perintah Kadis

Ia juga menyoroti bahwa ketimpangan sosial dan posisi tawar masyarakat kerap membuat suara rakyat kecil mudah dibungkam.

“Ada kesan bahwa posisi sosial dan kekuasaan bisa menentukan siapa yang boleh bersuara, kalau rakyat kecil tidak lagi berani bicara, siapa yang akan mengungkap kebenaran?” tegasnya.

Syahrial menambahkan, publik harus lebih kritis dalam menyikapi setiap klarifikasi yang muncul tiba-tiba, sebab, di balik kalimat yang rapi dan alasan ‘panik’, bisa saja tersembunyi ketakutan akan sesuatu yang lebih besar.

“Yang benar tidak akan gentar, biasanya kepanikan muncul ketika ada sesuatu yang belum siap diungkap ke publik,” pungkasnya.

Berita Terkait

Perempuan di Sampang Diduga Dianiaya dan Disiram Sambal, Polisi Turun Tangan
Temuan Dugaan Tumpang Tindih Proyek HIPPA Desa Nyalabuh Laok Dipersoalkan, GASI Soroti Sikap BBWS Brantas
Ditetapkan Tersangka, SPDP Kasus Dugaan Pencabulan Disabilitas Warga Camplong Diterima Kejari Sampang
Tanggapi Keluhan Masyarakat, SPBU Karang Anyar Siap Evaluasi Pelayanan
Besi Tulangan Proyek SPAM Murtajih Terukur 11,2 Milimeter, DPRKP Pamekasan Belum Beri Penjelasan
Aset Tanah Pemkab Sampang Dijual, DPRD Mengaku Tak Pernah Membahas
Proyek Pelebaran Jembatan dan Jalan Pantura bProbolinggo-lumajang diduga Tanpa Mikirkan Hajat Pengguna Jalan.
Bocah 8 Tahun Tenggelam di Sungai Rawas, Ditemukan Meninggal Dunia

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 16:49 WIB

Perempuan di Sampang Diduga Dianiaya dan Disiram Sambal, Polisi Turun Tangan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:30 WIB

Temuan Dugaan Tumpang Tindih Proyek HIPPA Desa Nyalabuh Laok Dipersoalkan, GASI Soroti Sikap BBWS Brantas

Kamis, 13 Agustus 2026 - 20:37 WIB

Tanggapi Keluhan Masyarakat, SPBU Karang Anyar Siap Evaluasi Pelayanan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 18:54 WIB

Besi Tulangan Proyek SPAM Murtajih Terukur 11,2 Milimeter, DPRKP Pamekasan Belum Beri Penjelasan

Rabu, 12 Agustus 2026 - 23:19 WIB

Aset Tanah Pemkab Sampang Dijual, DPRD Mengaku Tak Pernah Membahas

Berita Terbaru