Breaking News

Beton Pagar Labkesmas Sampang Retak Dini, Pengawasan Jangan Tutup Mata

BBG - Redaksi
2 menit baca•1,200 tayangan•Sampang Jawa Timur
Keterangan foto: Aktivitas pekerja pada proyek pembangunan pagar Labkesmas Kabupaten Sampang yang dikerjakan CV Brahmana Jaya dengan nilai kontrak Rp530,7 juta. (Angkat Berita/BBG)

SAMPANG (ANGKAT BERITA) Beton sloof pagar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Kabupaten Sampang mengalami keretakan ketika pekerjaan masih relatif baru, kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai mutu konstruksi proyek senilai Rp530,7 juta tersebut, termasuk kesesuaian pelaksanaan dengan dokumen perencanaan dan efektivitas pengawasan.

Proyek yang dibiayai Dana Alokasi Umum (DAU) *earmark* Tahun Anggaran 2026 itu berada di bawah Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Kabupaten Sampang, berdasarkan data proyek yang dihimpun redaksi, pekerjaan dilaksanakan CV Brahmana Jaya dengan nilai kontrak Rp530.716.863.

Kontrak bernomor 027/3179/YANKES-SDR/434.203/2026 itu ditandatangani pada 3 September 2026.

Temuan lapangan pada Kamis, 8 Oktober 2026, menunjukkan keretakan pada beton sloof di sisi selatan pagar, tepat di sebelah timur tiang listrik, kerusakan tersebut perlu diperiksa untuk memastikan penyebabnya, sekaligus menilai apakah struktur telah memenuhi persyaratan teknis.

Persoalan tidak berhenti pada kondisi fisik beton, redaksi juga memiliki dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang menjadi salah satu dasar untuk menelusuri kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan, pencocokan dokumen tersebut dengan spesifikasi kontrak, volume pekerjaan, serta kondisi fisik di lapangan diperlukan untuk memastikan penggunaan anggaran sesuai peruntukannya.

Di lokasi pekerjaan, material beton ditakar menggunakan wadah bekas galon cat berkapasitas sekitar 20 kilogram, komposisi campuran yang dilaporkan ditemukan di lapangan terdiri atas satu bagian semen, sembilan bagian pasir, dan lima bagian batu cor.

Jika perbandingan tersebut benar dan menggunakan satuan takar yang sama, komposisi itu perlu diuji kesesuaiannya dengan rancangan campuran dan spesifikasi teknis proyek, sebab, mutu beton tidak cukup dinilai dari tampilan fisik atau perbandingan material semata, pengujian teknis diperlukan untuk mengetahui kualitas campuran dan memastikan penyebab keretakan.

Dimensi lubang angkur besi juga menjadi sorotan karena dinilai sempit dan kurang dalam, kondisi tersebut perlu diukur dan dibandingkan dengan gambar kerja serta spesifikasi yang tercantum dalam dokumen kontrak.

Temuan-temuan itu menempatkan pelaksana dan pengawas proyek dalam posisi yang perlu memberikan penjelasan, apakah metode pencampuran telah sesuai spesifikasi? Apakah keretakan sudah tercatat dalam pengawasan? Dan bagaimana hasil pekerjaan akan dipastikan memenuhi persyaratan teknis sebelum dinyatakan selesai?

Kabid Yankes Dinkes KB Kabupaten Sampang, Nurul Syarifah, menyatakan akan menindaklanjuti informasi tersebut kepada pelaksana dan pengawas proyek.

“Oke Bapak makasih segera sy tindak lanjuti ke pelaksana dan pengawas,” kata Nurul melalui pesan singkat saat dikonfirmasi.

Pernyataan itu menjadi respon awal dari pihak dinas, namun, tindak lanjut tersebut masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan langsung, evaluasi teknis, dan penjelasan mengenai langkah penanganan terhadap bagian beton yang retak.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada konsultan pengawas mengenai keretakan sloof dan metode penakaran material belum memperoleh jawaban, pesan melalui WhatsApp telah terbaca, tetapi belum mendapat tanggapan hingga berita ini disusun.

Sumber: Labkesmas Sampang/Angkat Berita/Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Nasional

Artikel Populer