
SAMPANG|| ANGKAT BERITA -Proyek pembangunan lapangan sepak bola di Kelurahan Dalpenang, Kabupaten Sampang, dengan anggaran fantastis sebesar Rp2,5 miliar, telah menyelesaikan proses PHO (Provisional Hand Over).
Namun, berbagai kejanggalan di lapangan memunculkan dugaan kuat adanya permainan kotor antara Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) dengan CV Ika Cipta Mulya Mandiri, Jember, pelaksana proyek yang dikelola oleh Hoirul Anam alias Sinyo.
Hasil proyek yang jauh dari standar menjadi sorotan tajam publik. Panel listrik hingga kini belum terpasang, rumput yang disebut didatangkan dari Malang banyak yang mati mengering, dan kualitasnya keras seperti rumput taman biasa.
Tanah dasar lapangan tidak melalui proses pemadatan yang layak, sementara drainase terlihat dipasang asal-asalan. Kedua ujung lapangan bahkan dibiarkan terbengkalai, menunjukkan buruknya manajemen proyek ini.
Sinyo, pelaksana proyek, memilih bungkam ketika dimintai tanggapan oleh media terkait kondisi ini. Sikap diam ini semakin memperkuat dugaan adanya praktik tidak transparan dalam pelaksanaan proyek senilai miliaran rupiah tersebut.
Sekretaris Barisan Independen Nusantara (BIN), Muhammad Hari, dengan tegas mengkritik Disporabudpar atas buruknya pengelolaan proyek ini. Lebih lanjut, BIN mengumumkan akan mengirimkan surat resmi kepada Disporabudpar untuk meminta klarifikasi dan pertanggungjawaban terkait berbagai permasalahan di proyek tersebut.

“Kami akan segera menyurati Disporabudpar untuk meminta penjelasan resmi. Ada indikasi kuat bahwa proyek ini dibiarkan berjalan tanpa pengawasan yang memadai. Jika tidak ada jawaban memuaskan, kami akan membawa masalah ini ke ranah hukum,” tegas Muhammad Hari. Sabtu 5/01
Hari juga menyoroti dugaan adanya kolusi antara Disporabudpar dan pelaksana proyek.
“Anggaran Rp2,5 miliar adalah uang rakyat, tapi hasilnya seperti ini? Ini adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan masyarakat. Jika Disporabudpar tidak bisa memberi penjelasan yang masuk akal, maka dugaan kolusi dan korupsi semakin sulit dibantah,” lanjutnya dengan nada tajam.
Sejumlah warga Kelurahan Dalpenang mengungkapkan kekecewaannya terhadap proyek ini. Salah seorang warga menyatakan bahwa lapangan sepak bola tersebut tidak layak digunakan bahkan untuk latihan.
“Kalau hasilnya seperti ini, lebih baik tidak usah dibangun. Uang miliaran habis begitu saja untuk proyek yang tidak jelas manfaatnya,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Kasus ini menambah panjang daftar proyek bermasalah di Kabupaten Sampang, yang menunjukkan lemahnya pengawasan dan transparansi dalam pengelolaan anggaran.
Publik kini menunggu langkah nyata dari pihak Disporabudpar untuk menjawab surat dari BIN dan memberikan solusi atas kegagalan proyek ini.
Jika tidak, masyarakat berharap aparat penegak hukum segera turun tangan untuk mengusut tuntas dugaan penyimpangan ini.







Komentar