Breaking News

Darurat Pendidikan Sampang, 138 Sekolah Rusak Kritis Belum Dapat Kepastian Anggaran Pusat

BBG - Redaksi
3 menit baca1,930 tayanganSampang Jawa Timur

SAMPANG (ANGKAT BERITA) Dunia pendidikan di kabupaten Sampang benar-benar berada dalam kondisi siaga merah per September 2026. Rentetan insiden ambruknya atap gedung sekolah dasar (SD) dalam kurun waktu beberapa pekan terakhir menjadi alarm darurat nasional.

Angka kerusakan bangunan sekolah yang menua dan rapuh kini menjelma sebagai ancaman nyata yang mengintai nyawa para siswa dan guru setiap harinya.

Tragedi memilukan nyaris saja menelan korban jiwa di SDN Moktesareh 2, Kecamatan Kedungdung, Sampang. Tepat pada Sabtu pagi, 5 September 2026 pukul 08.52 WIB, kegiatan belajar mengajar (KBM) yang semula tenang mendadak berubah menjadi kepanikan luar biasa.

Saat belasan siswa kelas dua tengah fokus menyerap materi pelajaran, sang guru mendengar suara gemertak retakan yang mencurigakan dari langit-langit bangunan, menyadari bahaya maut mengintai, guru tersebut langsung menginstruksikan para siswa untuk berhamburan keluar menyelamatkan diri.

Benar saja, hanya dalam hitungan menit setelah dikosongkan, plafon dan atap bangunan sekolah tersebut ambruk total hingga memicu kepulan debu dan menyisakan puing-puing material yang mengerikan, akibat insiden ini, tiga ruang kelas mengalami kerusakan berat.

Memasuki pertengahan September 2026, para siswa terpaksa mengungsi dan belajar berdesakan di ruang kantor guru serta ruang perpustakaan sekolah agar proses KBM tidak telantar.

Sebelum kepanikan melanda Kecamatan Kedungdung, insiden serupa telah mengoyak infrastruktur pendidikan di ujung barat Sampang, tepat pada Senin malam, 10 Agustus 2026 sekitar pukul 20.00 WIB, struktur bangunan di SDN Taman 1 Kecamatan Sreseh dilaporkan roboh total.

Konstruksi atap sekolah ini runtuh akibat kombinasi kayu penyangga yang sudah menua dan lapuk, diperparah oleh hempasan angin kencang yang melanda kawasan pesisir tersebut.

Beruntung, insiden terjadi menjelang malam hari saat kondisi gedung sekolah sudah kosong, sehingga dipastikan tidak ada korban jiwa.

Meski demikian, dampak materialnya sangat masif dua ruang kelas, yakni kelas 1 dan kelas 2, hancur lebur dan tidak bisa digunakan lagi.

Guna menyiasati agar hak belajar anak-anak tidak terputus, pihak dinas terkait terpaksa menerapkan sistem penyekatan darurat di ruang kelas lain yang masih kokoh berdiri.

Berdasarkan data pokok pendidikan (Dapodik) terbaru yang dibeberkan Dinas Pendidikan (Disdik) dalam rapat koordinasi darurat bersama DPRD Sampang awal bulan ini, tercatat sedikitnya 464 gedung SD mengalami kerusakan fisik dari total 641 sekolah di Sampang.

Pihak Disdik telah memetakan 138 sekolah dengan tingkat kerusakan kritis di atas 60% untuk diajukan dalam program revitalisasi ke pemerintah pusat. Namun ironisnya, hingga September 2026, usulan darurat tersebut belum mendapatkan kepastian anggaran.

Melihat birokrasi yang lamban sementara keselamatan anak-anak dipertaruhkan, Ketua Komisi II DPRD Sampang, Alan Kaisan, langsung berang, dalam pernyataan resminya, legislator vokal tersebut menegaskan bahwa perbaikan sekolah tidak boleh ditunda dengan alasan klasik menunggu siklus anggaran reguler.

“Langkah cepat harus dilakukan, saran kami di DPRD Sampang agar Pemkab hendaknya segera mencairkan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk perbaikan fisik darurat karena ini menyangkut keselamatan nyawa,” tegas Alan Kaisan. Selasa (08/09)

Menanggapi tekanan keras parlemen, Kabid Pembinaan SD Disdik Sampang, Moh. Yusuf, menyatakan tengah melakukan konsultasi maraton bersama Inspektorat Pemkab guna memastikan regulasi hukum penggunaan dana BTT agar aksi penyelamatan sekolah ini bisa segera dieksekusi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Nasional

Artikel Populer