
Sampang||ANGKAT BERITA – Setelah sebelumnya ramai diberitakan akibat atapnya yang bocor parah, kini kerusakan lain di Puskesmas Pulau Mandangin kembali mencuat.
Berdasarkan pantauan langsung media ini serta laporan dari warga setempat, berbagai persoalan lain bermunculan pada bangunan yang belum genap beberapa bulan digunakan, padahal, proyek ini digarap dengan dana besar, mencapai Rp6,3 miliar dari anggaran publik.
Dikerjakan oleh CV ANDIEN, proyek ini memperlihatkan indikasi kuat lemahnya mutu pekerjaan sejak awal, atap bocor hanyalah salah satu gejala, rangkaian kerusakan lain kini turut menyeret perhatian publik, menunjukkan bahwa pembangunan fasilitas kesehatan ini jauh dari kata tuntas dan berkualitas.
Temuan kerusakan yang teridentifikasi di lapangan antara lain:
- Wastafel di laboratorium dan apotek bocor, air menetes dari bawah.
- Grendel kamar mandi rusak, bahkan ada yang copot saat digunakan.
- Ruang praktik gigi mengalami rembesan air di pojok ruangan.
- Dua kamar mandi mengalami genangan air karena saluran pembuangan tidak berfungsi optimal.
- Pintu aula dipasang membuka ke depan sehingga menghalangi akses ke ruang praktik gigi.
- Kaca ruang bersalin menggunakan kaca bening, bukan kaca buram seperti seharusnya, sehingga mengancam privasi pasien.
“Kaca ruang bersalin yang seharusnya pakai kaca buram, dipasang kaca bening. Ini sangat tidak sesuai untuk ruang yang membutuhkan privasi tinggi,” tegas drg. Rina, Kepala Puskesmas Pulau Mandangin.

Ia juga menyebut bahwa semua temuan kerusakan telah dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang dan pihak pelaksana proyek. Sejauh ini, proses perbaikan mulai berjalan meski terbatas.
Hal ini dibenarkan oleh Nurul, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Kabid Yankes) Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang. Saat dikonfirmasi, ia menyatakan bahwa perbaikan terhadap beberapa titik kerusakan sedang dilakukan. “Masih dikerjakan pak, wastafel sama genangan air di kamar mandi, dua kamar mandi,” jelas Nurul. Kamis (21/05)
Namun, di tengah upaya perbaikan, sorotan terhadap kualitas pengerjaan dan material tak dapat dihindarkan. Seorang tenaga kesehatan di puskesmas itu menyebut langsung: “Menurut saya, kualitas grendelnya memang jelek banget,” katanya. Ia bahkan mengalami langsung ketika grendel kamar mandi copot saat digunakan.
Puskesmas, sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat, seharusnya dibangun dengan standar mutu tinggi, apalagi untuk daerah kepulauan seperti Pulau Mandangin yang akses pelayanannya terbatas.
Fakta bahwa bangunan ini sudah mengalami berbagai kerusakan sejak awal penggunaan memperlihatkan kelemahan serius dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan proyek.
Publik kini menantikan langkah tegas dari Pemerintah Kabupaten Sampang dan Dinas Kesehatan, apakah akan ada evaluasi menyeluruh, audit teknis, dan tindakan hukum terhadap pihak yang lalai? Atau proyek ini kembali menjadi contoh pembiaran atas proyek gagal di sektor vital?
Uang rakyat sebesar Rp6,3 miliar semestinya menghadirkan fasilitas yang layak, bukan menciptakan masalah baru yang justru membahayakan keselamatan dan martabat pelayanan kesehatan.







Komentar