
Bangkalan.angkatberita.id
Hilangnya dua benda bersejarah milik Museum Cakraningrat Bangkalan Madura membuka tabir suram tentang buruknya pengelolaan dan pengawasan terhadap salah satu aset bersejarah di Madura tersebut. Kritik keras datang dari RP. Salman Alrosyid Dungmoso, pemilik museum uang Perusnia dan salah satu trah keluarga besar Cakraningrat, yang menilai pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Bangkalan telah lalai menjalankan tanggung jawabnya.
“Pengawasan dan pemeliharaan museum sangat tidak maksimal. Sampean bisa cek sendiri, saklar lampunya rusak, lampunya mati semua, dan kondisi museumnya kotor sekali. Koleksi banyak berdebu, tidak terurus,” tegas Salman saat ditemui, Sabtu (11/10).
Ia menyoroti tiga hal utama yang menunjukkan lemahnya pengelolaan museum yaitu; keamanan, fasilitas listrik, dan kebersihan.
Menurutnya, tidak ada penjagaan sama sekali di area museum, bahkan pada malam hari pintu museum kerap terbuka tanpa pengawasan petugas.
“Nggak ada yang jaga. Jangankan CCTV, listrik dan lampu saja rusak semua,” imbuhnya geram.
Salman menyebut kondisi ini sudah berlangsung selama dan bertahun-tahun tanpa perbaikan berarti dari pihak Disbudpar.
Ia mengungkapkan bahwa satu-satunya perbaikan yang dilakukan hanyalah pada bagian atap plafon yang ambruk, sementara sistem penerangan dan instalasi listrik di ruang koleksi tetap dibiarkan rusak.
“Beberapa tahun lampu dan penerangan tidak ada. Saklar rusak pun tidak diperbaiki. Kebersihan juga sangat memprihatinkan. Saya malu kalau mengantar mahasiswa ke sana, karena tidak ada satu pun lampu yang menyala,” ujarnya.
Salman juga mempertanyakan sikap pasif Disbudpar Bangkalan dalam menanggapi kasus pencurian yang terjadi. Menurutnya, dua artefak bersejarah berupa gamelan dan lonceng kuno tersebut hilang pada 4 Agustus 2025, namun baru dilaporkan ke pihak kepolisian pada 7 Agustus dan mempublikasikannya baru setelah dua bulan.
“Mengapa Disbudpar baru mengumumkan kehilangan itu setelah sekian lama, apa mereka takut aibnya terbongkar? Padahal mereka punya media sosial seperti Instagram dan Facebook yang bisa digunakan untuk publikasi cepat. Publik berhak tahu sejak awal,” pungkasnya.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangkalan. Minimnya perhatian terhadap perawatan, fasilitas, serta keamanan museum yang menyimpan sejarah panjang Kesultanan Cakraningrat menunjukkan adanya kelalaian struktural dalam pengelolaan aset budaya daerah.
Salman juga mendesak agar Bupati Bangkalan turun tangan langsung untuk mengevaluasi kinerja Disbudpar. Menurutnya, anggaran perawatan museum yang setiap tahun dialokasikan dari APBD patut dipertanyakan penggunaannya.
“Kalau anggaran perawatan itu ada, lalu ke mana realisasinya selama ini? Karena kondisi museum jelas-jelas menunjukkan tanda-tanda keterlantaran,” ungkapnya.
Kejadian ini bukan hanya soal kehilangan benda bersejarah, menurutnya juga kehilangan wibawa pemerintah daerah dalam menjaga warisan leluhur Madura. Museum Cakraningrat seharusnya menjadi pusat edukasi dan kebanggaan budaya, bukan simbol pembiaran dan kelalaian birokrasi.
Robin







Komentar