
JAMBI angkatberita.id – Ratusan tronton pengangkut batubara dari Riau dan Tebo menjadi sumber polusi dan keluhan sehari-hari bagi masyarakat Desa Pematang Tembesu, Kecamatan Tungkal Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Di tengah masalah lingkungan yang mencemaskan, warga kini geram dengan sikap Kades yang dinilai tidak transparan.
Debu tanah, pasir, dan batubara yang beterbangan dari tronton-tronton tersebut mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan masyarakat. Ironisnya, aktivitas angkutan batubara ini dinilai tidak memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat, terutama bagi masyarakat kalangan bawah.
Ramainya investor Dermaga batubara di Desa Pematang Tembesu justru diduga hanya memberikan keuntungan ekonomi bagi segelintir pejabat desa, seperti kepala desa dan perangkatnya. Sementara itu, masyarakat merasa ditinggalkan dan tidak mendapatkan manfaat yang sepadan.
Puncak kekesalan warga adalah sikap bungkam Kepala Desa (Kades) Pematang Tembesu terkait fee atau dana kompensasi yang diterima desa dari aktivitas pertambangan batubara. Masyarakat menduga ada praktik bagi-bagi keuntungan antara pejabat desa.
“Kami menduga ada praktik bagi-bagi keuntungan antara pejabat desa. Berapa fee yang diterima desa setiap bulannya, kami tidak tahu. Pemerintah desa juga tidak pernah terbuka kepada kami,” ungkap warga lainnya dengan nada curiga.
Masyarakat Desa Pematang Tembesu mendesak agar pemerintah daerah segera turun tangan untuk menertibkan aktivitas angkutan batubara ini.
Mereka juga menuntut transparansi dari pemerintah desa terkait pengelolaan dana yang berasal dari fee dermaga batubara
“Kami juga ingin agar pemerintah desa terbuka. Jangan sampai kami hanya menjadi korban polusi dan kesenjangan ekonomi” katanya







Komentar