
Pamekasan, angkatberita.id – Audensi kedua antara Gabungan Aktivis Sosial Indonesia (GASI) dan pihak Bea Cukai Kanwil Jatim I bersama Bea Cukai Madura kembali membuka luka lama: lemahnya pengawasan serta dugaan pembiaran peredaran rokok ilegal di Madura, khususnya di Kabupaten Pamekasan yang dikenal sebagai sarang produksi rokok ilegal.
Rokok merek Cahaya Pro menjadi bukti telanjang, produk ini beredar bebas di pasaran dengan pita cukai yang tidak sesuai peruntukan, cukai yang seharusnya untuk kemasan 10 batang justru dipasang pada isi 12 batang. fakta ini diakui langsung oleh Kasi Intel Bea Cukai Jatim I, Widiyas Baruna, dalam pertemuan resmi bersama GASI.
Namun ironisnya, meski bukti sudah jelas, langkah tegas tidak kunjung diambil, Bea Cukai hanya berjanji “akan menarik peredaran” tanpa kepastian kapan aksi nyata dilakukan, jawaban normatif ini kian menguatkan kecurigaan publik bahwa aparat justru bermain mata dengan para produsen.
Ketua Koordinator GASI, Achmad Rifai, menyebut Bea Cukai telah mempermainkan kepercayaan publik. “Janji pada audensi pertama tidak ditepati, sekarang janji lagi, sampai kapan rakyat harus menunggu, sementara negara terus dirugikan?” tegasnya.
Lebih jauh, Achmad Rifai menuding kelemahan Bea Cukai Madura dan Kanwil Jatim I bukan sekedar kelalaian, melainkan indikasi kuat adanya praktik transaksional, beberapa gudang rokok ilegal bahkan diduga dijadikan “ATM berjalan” dengan setoran rutin kepada oknum aparat.
Lemahnya penindakan ini jelas memalukan, aparat yang digaji dari uang rakyat justru diduga membiarkan kebocoran pendapatan negara, sementara itu, suara masyarakat dan seruan aksi sipil di Pamekasan berkali-kali menggema, namun tetap dianggap angin lalu.
Dalam audensi ke-2, Senin (25/8/2025), GASI menegaskan akan membawa persoalan ini ke Senayan, pihak Bea Cukai Jatim I tidak membantah dan menyatakan “siap jika masalah ini dibawa ke pusat”. Jawaban tersebut seakan menjadi pengakuan tersirat bahwa lembaga ini memang tidak berani menindak tegas pelanggaran rokok ilegal di Madura.
Jika benar demikian, publik pantas bertanya: untuk siapa Bea Cukai bekerja untuk negara, atau untuk pabrik rokok ilegal?
(BBG)







Komentar