SAMPANG (ANGKAT BERITA) Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Bahasa Madura 2026 di UPTD SMPN 4 Sampang pada Rabu (30/9/2026) guna merawat kelestarian bahasa daerah di tengah arus modernisasi.
Ajang tahunan yang memasuki edisi keempat ini diikuti oleh 204 siswa pilihan dari jenjang SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, yang sebelumnya telah keluar sebagai juara di tingkat kecamatan.
Menjaga Akar Budaya di Era Digital
Plh. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang, Raden Roro Dewi Trisna, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar kompetisi, melainkan langkah strategis penyelamatan bahasa ibu agar tidak tergerus zaman.
“Tujuan besarnya adalah melestarikan budaya daerah, terutama bahasa ibu. Kami berharap tumbuh kecintaan anak-anak terhadap budaya lokal yang pada akhirnya membangun rasa nasionalisme,” ujar Dewi Trisna saat membuka acara.
Ia juga mendorong satuan pendidikan untuk aktif mengintegrasikan muatan lokal ke dalam kegiatan sekolah serta memanfaatkan media sosial agar penggunaan bahasa Madura semakin dekat dengan generasi muda.
Tujuh Cabang Lomba Bergengsi
Dari total 204 peserta yang berpartisipasi—terdiri dari 80 siswa SD dan 124 siswa SMP, kompetisi dibagi ke dalam 7 cabang perlombaan utama, yaitu:
- Carakan Madura
- Pidato Bahasa Madura
- Menulis Cerita Pendek (Cerpen)
- Membaca Puisi
- Mendongeng
- Tembang
- Komisi Tunggal
Para peraih juara pertama dari masing-masing kategori ini nantinya akan menjadi delegasi Kabupaten Sampang untuk berlaga di FTBI tingkat Provinsi Jawa Timur.
Ajang tingkat provinsi tersebut nantinya mempertemukan para juara dari wilayah dengan penutur bahasa Madura, yakni empat kabupaten di Pulau Madura serta daerah Tapal Kuda seperti Probolinggo, Situbondo, dan Bondowoso.
Bangga Berbahasa Madura
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana FTBI Sampang, Feri Darmanto Setia Budi, mengingatkan kembali bahwa bahasa Madura telah ditetapkan sebagai mata pelajaran wajib untuk jenjang TK, SD, dan SMP sejak 2014 silam berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Timur.
Di tengah tantangan masifnya penggunaan gawai (gadget) pada anak-anak masa kini, Feri mengajak seluruh generasi muda untuk tetap percaya diri menggunakan bahasa daerah.
“Intinya, kita melestarikan bahasa Madura, pakai bahasa Madura di manapun kita berada. Jangan pernah malu menggunakan bahasa Madura dan jangan pernah malu menjadi suku Madura,” tegas Feri penuh optimisme.
(Acung)

Komentar