
SUMENEP||https://Angkatberita.id – Aroma busuk dugaan penyimpangan di industri rokok kembali mencuat. Kali ini, sorotan tajam mengarah ke Pabrik Rokok (PR) Harapan Bunda yang berlokasi di Dusun Sarpereng Selatan, Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep.
Pabrik ini dicurigai “beternak” pita cukai secara sistematis—menebus pita cukai setiap bulan tanpa aktivitas produksi yang terlihat.
Pantauan Angkat Berita, Kamis (25/7/2025), menunjukkan pabrik dalam kondisi mencurigakan: tertutup rapat, sunyi, dan tanpa denyut aktivitas produksi. Warga sekitar mengaku lama tak melihat kegiatan mencolok di dalam pabrik tersebut.
“Saya juga kurang tahu pemiliknya siapa, tapi memang sudah jarang buka, Mas,” ujar seorang warga setempat.
Namun, anehnya, PR Harapan Bunda justru rutin menebus pita cukai setiap bulan. Hal ini memunculkan dugaan kuat bahwa pita cukai tersebut tidak digunakan untuk produksi rokok legal, melainkan dijual kembali di pasar gelap—sebuah praktik kotor yang merugikan negara dan mencederai keadilan industri.
Aktivis pengawas rokok ilegal, Asmuni, secara tegas menyebut Bea Cukai Madura telah gagal total menjalankan fungsi pengawasan. Ia menyebut institusi itu mandul, hanya jago bicara dan pencitraan, tetapi lemah dalam penindakan.
“Bea Cukai Madura itu mandul. Kalau mereka serius, separuh PR ilegal di Sumenep sudah ditutup sejak kemarin. Tapi sayangnya, mereka seolah tutup mata. Atau… sengaja membiarkan?” tegas Asmuni.
Ia menambahkan bahwa modus “ternak pita cukai” sudah menjadi rahasia umum di kalangan pengusaha rokok. Pita ditebus, tapi bukan untuk produksi. Justru dijual ke jaringan gelap, untuk menyelundupkan rokok ilegal seolah-olah legal.
“Kalau Bea Cukai tidak segera audit PR Harapan Bunda, kami akan kirim surat resmi ke Dirjen Bea dan Cukai Pusat. Kami tidak akan diam saat uang negara dirampok di depan mata,” ancamnya lantang.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah Bea Cukai Madura tidak tahu, tidak mampu, atau sengaja membiarkan? Jika pita cukai terus ditebus tanpa hasil produksi yang jelas, seharusnya alarm audit langsung menyala.
Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, tidak ada langkah tegas yang diambil oleh otoritas terkait. PR Harapan Bunda pun belum memberikan klarifikasi meski telah dihubungi berulang kali.(Asm)







Komentar