Sumenep||angkatberita – Di bawah atap megah Pendopo Agung Keraton Sumenep, semangat baru dunia persilatan Kabupaten Sumenep resmi diresmikan. Dalam suasana khidmat, berwibawa, dan kental nuansa budaya, Pencak Silat Perisai Putih Nusantara (PP Nusantara) dideklarasikan pada Minggu (29/03/2026) sebagai wadah persatuan, pelestarian budaya, dan pembinaan karakter generasi muda.
Acara dibuka dengan lantunan Indonesia Raya yang dinyanyikan seluruh tamu, peserta, dan insan persilatan. Gemanya di dalam pendopo menjadi penegasan bahwa pencak silat bukan sekadar seni bela diri, melainkan identitas nasional yang tumbuh dari akar budaya bangsa.
Setelah pembukaan, para anggota PP Nusantara menampilkan atraksi silat yang memadukan ketangkasan, estetika gerak, kedisiplinan, kekompakan, serta penghormatan kepada guru cermin nilai luhur warisan leluhur.
Deklarasi ini lebih dari sekadar seremoni organisasi. Momentum tersebut menjadi ikrar moral dan kultural bahwa pencak silat harus tetap berdiri tegak sebagai warisan bangsa dengan menjunjung tinggi persaudaraan, adab, disiplin, sportivitas, dan persatuan.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan tantangan sosial yang semakin kompleks, kehadiran PP Nusantara dianggap langkah strategis agar nilai-nilai luhur pencak silat tetap hidup, tumbuh, dan relevan di masyarakat.
Kegiatan berlangsung meriah namun tetap penuh makna, mendapat perhatian luas dari jajaran Forkopimda Kabupaten Sumenep. Meski beberapa pejabat utama berhalangan hadir, dukungan tetap mengalir lewat perwakilan resmi: Bupati Sumenep, Kapolres Sumenep, Dandim, Ketua Pengadilan Negeri, serta Kepala Kejaksaan Negeri.
Penandatanganan piagam dukungan Sebagai bentuk komitmen bersama, acara dilanjutkan dengan penandatanganan Piagam Deklarasi PP Nusantara oleh Bupati Sumenep dan seluruh perwakilan Forkopimda. Penandatanganan juga diikuti oleh para pimpinan perguruan silat yang hadir, menegaskan kesepakatan kolektif untuk menjaga persilatan sebagai ruang persaudaraan, bukan sumber perpecahan.

Kehadiran pemerintah, aparat penegak hukum, dan pemangku kepentingan menunjukkan bahwa pencak silat kini dipandang sebagai instrumen pembinaan sosial, pelestarian budaya, dan penguatan karakter kebangsaan bukan hanya aktivitas bela diri.
Deklarasi ini juga dihadiri tokoh dan perwakilan Ikatan Pancak Silat Indonesia (IPSI) serta berbagai perguruan silat se Kabupaten Sumenep. Dukungan moral mereka menegaskan pentingnya menjaga iklim persilatan yang sehat, damai, dan bermartabat. Beragam perguruan yang berkumpul dalam satu forum menjadi sinyal positif bahwa dunia persilatan Sumenep bergerak ke arah yang lebih dewasa, harmonis, dan berorientasi persatuan.
Dalam sambutannya, perwakilan panitia menegaskan bahwa PP Nusantara hadir untuk membangun wajah pencak silat yang lebih teduh, beradab, dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Pencak silat bukan hanya tentang kemampuan bela diri. Di dalamnya ada nilai adab, penghormatan kepada guru, kedisiplinan, pengendalian diri, dan semangat menjaga persatuan bangsa,” ujarnya.
Pemilihan Pendopo Agung Keraton Sumenep sebagai lokasi bukan tanpa alasan. Tempat bersejarah yang menjadi simbol kebudayaan dan kebesaran Sumenep itu menghadirkan nuansa sakral yang selaras dengan ruh pencak silat sebagai bagian dari identitas Nusantara.
Perpaduan semangat persaudaraan, kebanggaan budaya, dan tekad kolektif untuk menjaga marwah persilatan di Bumi Sumekar terasa sepanjang acara.
Lebih dari sekadar deklarasi simbolik, momentum ini diharapkan menjadi titik awal pembinaan generasi muda yang lebih serius baik dalam aspek atletik, pendidikan mental, kedisiplinan, maupun pembentukan karakter.
PP Nusantara dipandang sebagai ruang positif agar anak-anak muda tidak mudah tergerus pengaruh negatif zaman, melainkan tumbuh dengan keteguhan sikap, kejernihan akal, dan kedewasaan perilaku.
Dengan dukungan pemerintah, aparat, IPSI, dan perguruan silat, PP Nusantara diharapkan mampu membangun ekosistem pencak silat yang sehat, kompetitif, berbudaya, dan tetap menjunjung tinggi persaudaraan.
Deklarasi di jantung budaya Kota Keris ini menjadi penanda bahwa pencak silat bukan hanya warisan masa lalu, melainkan kekuatan masa depan yang harus dijaga, dirawat, dan dibesarkan bersama demi kemajuan sosial budaya masyarakat.

Komentar