Sumenep||angkatberita – Dugaan kredit fiktif di BRI Cabang Sumenep terus memicu tanda tanya besar. Di tengah korban yang terus bertambah dan sorotan publik yang kian deras, proses hukum justru dinilai mandek dan hanya berputar pada satu nama Novi Arvianti, mantan teller.
Kuasa hukum korban, Bayu Eka Prasetya, menegaskan ada kesan kuat bahwa eks teller tersebut sengaja dijadikan kambing hitam. Padahal, kata Bayu, pencairan kredit di perbankan mustahil berjalan oleh satu orang karena melibatkan banyak tahapan dan sejumlah pejabat berwenang.
“Proses kredit itu berlapis. Ada verifikasi, analisis, hingga persetujuan. Tidak mungkin teller berjalan sendiri,” tegas Bayu.
Bayu juga menyoroti belum adanya langkah tegas terhadap Account Officer (AO) bernama Ridwan. AO tersebut disebut memiliki keterkaitan langsung dengan proses pengajuan kredit yang menggunakan dokumen pensiun milik korban. Menurutnya, jika aparat serius membongkar kasus ini, seluruh rantai yang terlibat wajib diperiksa tanpa tebang pilih.
“Jika penyelidikan ingin benar-benar mengungkap akar persoalan, seluruh pihak dalam rantai proses kredit harus diperiksa menyeluruh. Jangan berhenti di teller saja,” ujarnya.
Kritik juga diarahkan pada pertemuan korban dengan Pimpinan BRIGUNA BRI Sumenep, Desy Kusumayanti. Dalam pertemuan itu, Bayu menyebut pembicaraan lebih banyak berkisar pada penegasan bahwa pimpinan tidak menerima uang sepeser pun dari kredit bermasalah tersebut.
Sayangnya, pembahasan soal dugaan pelanggaran prosedur oleh pihak lain justru tidak mendapat perhatian serius.
“Yang ditegaskan hanya soal tidak menerima uang sepeser pun. Tapi dugaan pelanggaran prosedur oleh pihak lain seolah tidak dibahas secara serius,” kata Bayu.
Ia mempertanyakan logika yang berkembang bahwa teller melakukan tindakan itu semata-mata karena mengejar target pekerjaan.
“Di awal alasannya karena kejar target. Masa iya teller yang kejar target? Ini yang patut dipertanyakan,” tegasnya.
Bayu menutup, korban sudah banyak berjatuhan, namun yang seolah dipersalahkan hanya teller.
“Korban sudah banyak. Tapi yang seolah-olah dikambinghitamkan hanya teller itu,” pungkasnya.

Komentar