
Sampang, angkatberita.id -Demokrasi tak cukup hanya dipajang dalam slogan dan baliho kampanye, ia menuntut konsistensi dalam sikap, terutama bagi mereka yang mengklaim diri berada di jantung komunikasi publik, sayangnya, nilai luhur itu tampaknya mulai tergerus di tubuh Media Center Sampang (MCS).
Beberapa waktu lalu, sejumlah pengurus, termasuk pendiri MCS sendiri didepak secara sepihak dari grup internal organisasi, penyebabnya bukan pelanggaran etik atau penyalahgunaan wewenang, melainkan karena mereka terlihat duduk satu meja dengan pihak yang dianggap rival politik dalam Pilkada Sampang 2024, duduk bersama dianggap dosa, menyapa dianggap makar.
Yang lebih menggelikan, langkah ini disebut berdasarkan “instruksi pimpinan”, tapi siapa pimpinan yang dimaksud? Kenapa ia tak pernah muncul ke permukaan, hanya dijadikan perisai untuk keputusan-keputusan yang tak populer? Mengapa nama “pimpinan” juga kerap dibawa-bawa saat meminta sumbangan atau dukungan, seolah-olah ia mengamini setiap langkah pengurus yang kini merasa paling sah dan paling benar?
Tanpa konfirmasi, tanpa ruang dialog, apalagi klarifikasi, keputusan ini mencerminkan wajah otoritarianisme dalam miniatur, sebuah gaya kepemimpinan yang lebih cocok diterapkan di barak, bukan dalam komunitas jurnalistik yang seharusnya menjunjung tinggi keberagaman pandangan.
Kami yang dikeluarkan bukan sedang kecewa karena kehilangan grup WhatsApp, tapi prihatin terhadap matinya ruang dialog, rusaknya etika organisasi, dan lunturnya semangat kebersamaan yang dulu menjadi pondasi berdirinya MCS.
Pertemuan kami dengan siapa pun, dari kubu mana pun, bukan bentuk dukungan politik praktis. Itu bagian dari keterbukaan, dari upaya menjaga silaturahmi, dari hasrat untuk merawat demokrasi lokal yang kian rapuh. Jika niat baik dianggap ancaman, lalu ruang mana yang tersisa bagi akal sehat?
Ketua MCS yang juga menjabat sebagai Ketua PWI Sampang dan disebut-sebut akan segera purna tugas, saat dikonfirmasi hanya memberi jawaban pendek: “Sampai ketemu.” Bukan klarifikasi, bukan tanggapan substansi, hanya sapaan basa-basi, seperti pejabat yang enggan disentuh masalah.
Kami hanya ingin mengingatkan: kepemimpinan bukan perkara simbolik, apalagi personalisasi kekuasaan, ia soal keberanian mendengar, soal menghargai perbedaan, soal menjaga kebebasan berpikir dalam bingkai etika, hika MCS ingin tetap relevan, ia harus kembali pada nilai-nilai itu, bukan menjadi perpanjangan tangan kelompok tertentu.
Demokrasi adalah ruang terbuka. Bukan ruang sunyi penuh bisik-bisik perintah dari balik layar.







Komentar