
Sumenep, angkatberita.id – Partisipasi perwakilan pegawai Puskesmas Pragaan dalam pawai karnaval HUT RI ke-80 di Kecamatan Pragaan, Senin (25/8/2025), justru menimbulkan kontroversi keras di tengah masyarakat.
Alih-alih menampilkan nuansa edukatif dan menyehatkan sebagaimana identitas lembaga kesehatan, rombongan Puskesmas Pragaan justru menghadirkan tontonan yang dinilai jauh dari nilai kepatutan.
Mereka tampil dengan pick-up yang dijejali sound system bervolume ekstrem, memutar musik jedag-jedug. Di atasnya, sejumlah perempuan berbusana ketat hingga terkesan vulgar asyik berjoget, bahkan mempertontonkan gerakan erotis.
Pemandangan ini sontak menuai reaksi pedas. Seorang tokoh agama Pragaan menegaskan bahwa perayaan kemerdekaan yang semestinya menjadi ruang syukur dan sarana memperkokoh nilai kebangsaan kini berubah menjadi ajang tontonan tak pantas.
“Dulu karnaval itu penuh nuansa perjuangan dan hiburan rakyat yang mendidik. Tapi sekarang, dengan aksi semacam ini, masyarakat dibuat resah. Ini sudah tidak bisa ditoleransi,” ujar Kiai H. Hayatul Islam, yang saat ini dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren Al-Ibrohimi Masaran.
Kritik makin menguat karena Pragaan selama ini dikenal sebagai kawasan religius, basis lembaga pendidikan Islam, dan penghasil banyak kader santri serta mahasiswa berprestasi di bidang keagamaan. Fenomena ini dinilai sebagai tamparan terhadap citra religius tersebut.
Lebih jauh, tindakan pegawai Puskesmas Pragaan itu dianggap menyalahi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, yang secara tegas mengharamkan penggunaan “sound horeg” dan segala praktik hiburan yang melanggar norma agama.
“Kami mendesak Puskesmas Pragaan segera menyampaikan permintaan maaf terbuka dan berkomitmen tidak mengulanginya. Ini bukan sekadar salah langkah, tapi sudah mencederai fatwa MUI dan mencoreng marwah masyarakat Pragaan,” tegasnya.
Namun hingga kini, baik pihak Puskesmas Pragaan maupun panitia karnaval Kecamatan Pragaan belum mengeluarkan klarifikasi resmi. Upaya konfirmasi kepada pihak terkait juga tidak membuahkan hasil. (Asm)







Komentar