
Sumenep||angkatberita-Tak hanya proyek renovasinya yang terkesan asal-asalan, setelah Terminal Arya Wiraraja, Sumenep, Jawa Timur beroperasi dengan bangunan baru, di sana juga ditengarai menjadi lokasi pungutan liar (pungli). Seperti apa modusnya? Berikut hasil penelusuran Angkat Berita.
————-
HINGAR BINGAR dugaan pungli di Terminal Arya Wirara kian santer. Sebab, hingga saat ini, pungutan yang diduga berkedok uang parkir itu belum tertangani.
Pungli yang seakan dibiarkan itu meresahkan warga, terutama mereka yang mengantarkan ataupun menjemput keluarganya ke dalam terminal.
Informasinya, kendaraan yang masuk ke terminal diminta uang parkir Rp 2.000 untuk roda dua dan Rp 3.000 untuk roda empat.
Hanya saja, petugas parkir tidak memberikan karcis resmi sebagai bukti retribusi. Juru parkir (jukir) hanya mengaku disuruh atasannya untuk memungut uang bagi setiap kendaraan pengunjung.
Angkat Berita mencoba masuk ke Terminal Arya Wiraraja menggunakan motor siang hari pascaiduladha. Ternyata benar, jukir di sana hanya mengikatkan nomor parkir warna kuning.
“Dua ribu,” celetuk seorang jukir sambil mengambil nomor parkir yang berada di stang stir sebelah kanan kendaraan pengunjung. Petugas jukir yang menggunakan penutup muka itu terkesan buru-buru saat tahu dirinya direkam.
Tak hanya pada siang hari, keesokan harinya menjelang malam, Angkat Berita kembali lagi ke terminal dengan memarkir kendaraan di depan terminal dekat pos penjaga.
Setelah keluar dari terminal, sontak petugas meminta uang parkir. “Bayar Mas, Rp 2000,” katanya. Hanya saja, Angkat berita tidak mau membayar karena saat ditanya karcisnya, petugas itu tidak bisa menunjukkan.
Apalagi, Angkat Berita berada di terminal ujung timur Madura hanya sebentar untuk memastikan pungli yang berkedok uang parkir.
Informasinya, pungli yang dibungkus dengan uang parkir itu ditengarai menjadi bancakan para pimpinan terminal. Mereka sengaja menyuruh sejumlah warga untuk menjalankan aksi pungutan bagi pengunjung.
Sayangnya, Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Tipe A Arya Wiraraja Sumenep Handoko Imam Hanafi belum bisa dikonfirmasi. “Bapak tidak ada, mungkin ke luar,” kata salah satu pegawai terminal Arya Wiraraja.
Seperti diberitakan, Terminal Arya Wiraraja menjadi “lahan basah” dalam praktik dugaan korupsi. Mulai dari renovasinya pada 2024 hingga pada pengelolaannya.
Sejak pengoperasiannya 21 Januari 2025, banyak fasilitas bangunan terminal tipe A itu yang sudah protol. Mulai dari polisi tidur atau “speed hump” di pintu masuk/ keluar bus yang berserakan hingga pada panel dinding bangunan yang mulai protol.
Ironisnya, proyek renovasi terminal senilai Rp 28.899.000.000 yang digelontorkan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI pada 2024 itu minim pengawasan.
Bersambung.. (Asm)







Komentar