Breaking News

Diduga Dibiarkan 8 Bulan, Pipa Gas Bawah Laut Pertamina Bocor di Langkat: Ancaman Ledakan di Depan Mata

8 bulan bocor dibiarkan? Pipa gas Pertamina di Langkat mengintai maut—ledakan bisa terjadi kapan saja, warga jadi taruhan!

Angkat Berita - Redaksi
2 menit baca•119 tayangan

Langkat, Sumatera Utara / angkatberita.id – Kebocoran pipa gas bawah laut milik PT Pertamina EP Pangkalan Susu Field di perairan Kelurahan Bukit Jengkol, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, memicu kekhawatiran serius di kalangan nelayan dan warga pesisir.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kebocoran tersebut diduga telah berlangsung selama kurang lebih delapan bulan. Seorang anak buah kapal (ABK) mengungkapkan bahwa kondisi itu terkesan tidak segera ditangani secara optimal.

Pantauan di lapangan menunjukkan adanya gelembung-gelembung gas yang muncul ke permukaan laut di sekitar titik kebocoran. Fenomena ini diduga berasal dari tekanan gas di dalam pipa yang bocor. Kondisi tersebut membuat para nelayan enggan melintas di area tersebut karena khawatir terhadap potensi bahaya.

Pipa bawah laut tersebut diketahui merupakan jalur distribusi gas dari Pulau Panjang (PPJ) menuju Main Gathering Station (MGS). Jalur ini merupakan bagian penting dari operasional distribusi energi di wilayah tersebut.

Seorang nelayan tradisional setempat menyebut kebocoran sudah berlangsung cukup lama, bahkan mendekati satu tahun. Ia berharap pihak terkait segera melakukan perbaikan, mengingat bau gas yang tercium sangat menyengat di sekitar lokasi.

“Awalnya kecil, tapi lama-lama semburan gasnya makin besar,” ujarnya. Ia menduga kebocoran terjadi akibat kondisi pipa yang sudah korosif.

Lokasi pipa yang bocor disebut berada tidak jauh dari area jetty bongkar muat elpiji milik Pertamina. Kedekatan ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi insiden yang lebih besar, termasuk risiko kebakaran atau ledakan yang dapat berdampak luas.

Menanggapi hal tersebut, Humas Pertamina, Wahyu, menyatakan pihaknya telah bergerak cepat setelah menerima informasi. Pada Jumat (24/4), tim langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan awal dengan menghentikan aliran gas dari jalur PPJ ke MGS.

“Penanganan tidak boleh setengah-setengah karena menyangkut keselamatan masyarakat,” ujar Wahyu. Ia juga mengapresiasi peran media dalam menyampaikan informasi terkait kejadian ini.

Upaya penanganan dilanjutkan keesokan harinya guna memastikan proses penghentian aliran gas berjalan optimal dan aman.

Hingga kini, warga berharap perbaikan dilakukan secara menyeluruh dan transparan guna mencegah potensi bahaya yang lebih besar di masa mendatang.

(Hen)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Nasional

Artikel Populer