
Sampang|| angkat berita – Aroma busuk kebijakan tebang pilih kembali menyengat di tubuh Pemerintah Kabupaten Sampang.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sampang diduga sengaja mempercepat penanganan dugaan perselingkuhan seorang oknum Kabid Pemda, meski bukti yang ada sangat minim hanya bersandar pada kesaksian tanpa fakta yang solid.
Namun, ironisnya, kasus yang jauh lebih besar di tubuh Dinas Pendidikan, melibatkan oknum Guru diduga melakukan perselikuhan dengan bukti lengkap, rekaman percakapan telepon yang mengungkapkan pembahasan pertemuan mereka, sudah melakukan hubungan intim (Perzinahan) dengan selingkuhannya tersebut di beberapa tempat, malah terkubur tanpa kepastian.
Langkah Sekda ini memunculkan spekulasi bahwa ada “permainan kotor” di balik kebijakan tersebut. Publik bertanya-tanya, apakah percepatan ini dilakukan untuk kepentingan pribadi atau tekanan dari pihak tertentu? Dan lebih parah lagi, apakah kasus besar yang menyentuh ranah Dinas Pendidikan sengaja dilindungi karena melibatkan “orang kuat”?
Rifa’i Laskar Pemberdayaan Masyarakat (Lasbandra), tak segan melontarkan kritik tajam terhadap tindakan ini.
“Ini jelas-jelas bentuk penghinaan terhadap keadilan dan akal sehat masyarakat Sampang,” ujar Rifa’i dengan nada berapi-api.
“Apa dasar Sekda begitu ngotot dengan kasus yang bahkan tidak punya bukti jelas, sementara kasus besar dengan bukti lengkap dibiarkan membusuk? Jangan-jangan ada transaksi gelap di balik layar!”
Lasbandra menilai tindakan Sekda bukan hanya mencerminkan ketidakadilan, tetapi juga mencoreng citra institusi pemerintahan di mata masyarakat.
“Sekda ini sedang mempermainkan kepercayaan rakyat. Jika kasus dengan bukti lengkap saja diabaikan, bagaimana masyarakat bisa yakin bahwa keadilan ditegakkan di Sampang?” kritik Rifa’i Rabu (22/01/25)
Lebih jauh, Rifa’i menyebut bahwa langkah ini tidak ubahnya penghinaan terhadap hukum. Mereka mempertanyakan apakah Pemkab Sampang sudah berubah menjadi panggung sandiwara di mana hanya kasus tertentu yang dilayani, tentunya dengan alasan yang tidak transparan.
“Kami minta Sekda segera menunjukkan keadilan dan transparansi. Jangan pikir masyarakat bodoh dan diam! Jika ini terus terjadi, kami siap mengungkap semua borok yang ada.”
Rifa’i juga mengancam akan membawa masalah ini ke tingkat yang lebih tinggi, baik secara hukum maupun politik.
“Jika Sekda tidak segera memperbaiki arah kebijakan dan menuntaskan semua kasus dengan adil, kami akan pastikan masalah ini sampai ke pemerintah pusat. Jangan sampai birokrasi Sampang berubah menjadi sarang tikus berdasi!” tutupnya
Sebelumnya diberitakan Skandal dugaan perselingkuhan yang melibatkan ASN berinisial MA, seorang guru PNS di Kecamatan Robatal, menjadi sorotan publik setelah dilaporkan oleh suaminya, AE, yang juga seorang guru PNS di Kecamatan Kedungdung.
MA diduga menjalin hubungan gelap dengan seorang pria bernama Hanafi, warga Kecamatan Pangarengan.
Kasus ini telah dilaporkan secara resmi ke Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang melalui surat bernomor 400.3.7.1/60/434.201.300.17/2024. Lima bulan yang lalu.







Komentar