SAMPANG (ANGKAT BERITA) Proyek Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) senilai Rp195 juta di Desa Pasean, Kecamatan Sampang, menuai sorotan dari Aktivis Senior Zainal Pagar Jati, usai meninjau langsung lokasi pekerjaan pada Rabu (22/7) Zainal menilai pengawasan teknis tidak boleh hanya berhenti pada laporan administrasi ketika di lapangan masih ditemukan pekerjaan yang patut dipertanyakan.
Dari hasil pemantauan, Zainal menemukan sejumlah kondisi yang dinilai memerlukan pemeriksaan teknis lebih lanjut, di antaranya diduga tidak terdapat pondasi pada beberapa bagian pasangan batu, sebagian pasangan tidak menggunakan spesi secara merata, serta terdapat pasangan batu yang ditempelkan pada konstruksi lama.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele karena berpotensi memengaruhi kualitas konstruksi sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai kesesuaian volume pekerjaan dengan anggaran yang dialokasikan.
“Kalau benar batu baru hanya ditempel pada bangunan lama, tentu harus dihitung kembali volumenya, jangan sampai pekerjaan baru justru bergantung pada bangunan lama, sementara anggarannya dihitung penuh,” kata Zainal.
Yang menjadi perhatian, lanjut dia, informasi yang diterimanya menyebutkan pendamping lapangan telah mengingatkan pelaksana agar pekerjaan mengikuti petunjuk teknis, namun, kondisi di lapangan diduga menunjukkan arahan tersebut belum sepenuhnya dijalankan.
“Kalau pendamping sudah mengingatkan tetapi pelaksana tetap bekerja seperti itu, berarti ada persoalan serius pada pemahaman teknis pelaksana, program ini menggunakan uang negara, bukan anggaran pribadi, setiap tahapan pekerjaan harus mengikuti spesifikasi, bukan berdasarkan kebiasaan,” tegasnya.
Zainal menilai kondisi tersebut tidak cukup hanya diselesaikan oleh pendamping lapangan, Asisten Tenaga Ahli (ASTA), dan Konsultan Manajemen Balai (KMB) diminta segera turun ke lokasi untuk melakukan audit teknis terhadap pekerjaan yang sedang berlangsung.
Menurutnya, keberadaan ASTA, dan KMB bukan sekedar melengkapi struktur pendampingan, tetapi memastikan setiap pekerjaan P3-TGAI memenuhi standar mutu sebelum anggaran negara dibayarkan.
“Jangan menunggu proyek selesai baru ramai melakukan evaluasi, turun sekarang, periksa pondasinya, cek penggunaan spesi, ukur volumenya, lihat apakah ada pekerjaan yang menempel pada konstruksi lama, kalau memang sesuai, sampaikan ke publik, tapi kalau ada yang tidak sesuai spesifikasi, jangan ragu memerintahkan pembongkaran dan perbaikan, pengawasan yang terlambat hanya akan membuat kerugian semakin besar,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, media masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak HIPPA Putri Salju, pendamping lapangan, serta BBWS Brantas terkait temuan tersebut.






Komentar