SAMPANG (ANGKAT BERITA) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi simbol kepedulian negara terhadap kesehatan anak-anak, justru tercoreng oleh temuan yang mengejutkan di Kabupaten Sampang.
Pada Senin (16/6/2026), susu yang dibagikan kepada siswa dalam wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sampang Jrengik Kalangan Prao,
Yayasan Kolaborasi Ekosistem Masyarakat Indonesia (Kemas) Dapur Bejreh diduga mengandung ulat hidup.
Yang lebih mengkhawatirkan, ulat tersebut tidak ditemukan dalam kondisi mati, melainkan terlihat masih bergerak setelah susu dituangkan.
Temuan ini sontak memicu keresahan dan kemarahan masyarakat, pasalnya, produk yang seharusnya menjadi sumber nutrisi bagi anak-anak sekolah justru diduga telah terkontaminasi sebelum dikonsumsi.
Jika ulat hidup berada di dalam susu yang telah didistribusikan kepada siswa, maka persoalan ini tidak bisa dianggap sebagai insiden sepele.
Publik mempertanyakan bagaimana produk dengan kondisi seperti itu bisa lolos dari proses pemeriksaan dan sampai ke tangan penerima manfaat.
Sejumlah pihak menilai kejadian tersebut menunjukkan adanya dugaan lemahnya pengawasan kualitas pangan dalam rantai distribusi MBG.
Sebab, keberadaan ulat hidup mengindikasikan adanya masalah serius yang seharusnya dapat terdeteksi sebelum produk dibagikan.
Namun hingga berita ini diterbitkan, pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program di wilayah tersebut justru memilih bungkam.
Firda selaku pengelola dapur SPPG Bejreh tidak memberikan tanggapan saat dikonfirmasi terkait temuan susu diduga berulat tersebut.
Pertanyaan mengenai mekanisme pemeriksaan bahan pangan dan langkah evaluasi pascakejadian tidak dijawab.
Sikap serupa juga ditunjukkan Ratna selaku Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Sampang, upaya konfirmasi yang dilakukan Angkatberita.id terkait tindak lanjut dan pengawasan terhadap insiden tersebut juga tidak mendapatkan respon, kebungkaman para penanggung jawab ini justru memperbesar tanda tanya di tengah masyarakat.
Jika masalah berasal dari pemasok, mengapa produk tersebut bisa lolos pemeriksaan? Jika pemeriksaan telah dilakukan, bagaimana mungkin ulat hidup masih ditemukan di dalam susu?
Apakah prosedur pengawasan benar-benar berjalan, atau hanya sebatas formalitas administrasi? Pertanyaan-pertanyaan itu hingga kini belum terjawab.
Yang pasti, kualitas dan keamanan pangan dalam program MBG bukanlah perkara kecil, orogram yang menyasar anak-anak sekolah semestinya menerapkan standar pengawasan paling ketat, bukan justru menyisakan kekhawatiran tentang keamanan makanan dan minuman yang dikonsumsi siswa setiap hari.
Hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola dapur maupun Korwil SPPG Sampang, masyarakat menunggu penjelasan terbuka, sekaligus langkah konkret untuk memastikan kejadian susu diduga berulat hidup ini tidak kembali terulang di kemudian hari.
Media ini masih menunggu tanggapan para petinggi yg membidangi, sebelum melangkah ke korwil propinsi.





Komentar