
Bangkalan.angkatberita.id
Kabupaten Bangkalan Madura belakangan ini menjadi perbincangan hangat. Bukan karena prestasi, melainkan karena rentetan kasus yang mencoreng nama daerah.
Mulai dari kasus korupsi yang menjerat sejumlah oknum di tubuh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) hingga menyeret mereka ke meja hijau. Di sisi lain, aparat kepolisian terus berjibaku menghadapi maraknya peredaran narkoba. Tidak sedikit, pengedar maupun pengguna sabu digiring ke kantor polisi dari berbagai wilayah di Bangkalan.
Seakan belum cukup, aksi begal motor juga menghantui masyarakat di beberapa titik, menambah daftar panjang keresahan publik. Situasi ini membuat wajah Bangkalan semakin buram di mata masyarakat, bahkan hingga tingkat nasional.
Ironi terjadi ketika identitas religius tetap dikampanyekan lewat slogan besar di pintu masuk kota dari arah Jembatan Suramadu: “Selamat Datang di Bangkalan, Kota Dzikir dan Shalawat”. Namun kenyataan di lapangan seolah mengingkari pesan yang terpampang di gapura megah tersebut.
“Kalau kita lihat fakta hari ini, Bangkalan jauh dari sebutan kota religius. Slogan hanya jadi hiasan, sementara rakyat hidup dalam bayang-bayang korupsi, narkoba, dan begal. Inilah kenyataan pahit yang tidak bisa ditutup-tutupi lagi,” ungkap Kuncir (samaran), seorang warga sekaligus pemerhati sosial di Bangkalan, Minggu (17/8).
Kontradiksi antara identitas spiritual yang diagungkan dengan realitas yang terjadi justru memunculkan stigma baru: Bangkalan sedang bersembunyi di balik topeng religiusitas. Tantangan besar kini ada di tangan penegak hukum dan pemerintah daerah: apakah mampu mengembalikan marwah Bangkalan sebagai kota yang benar-benar layak menyandang predikat Kota Dzikir dan Shalawat, atau justru membiarkan masyarakat terus tenggelam dalam lingkaran kebohongan yang berkepanjangan.







Komentar