
Bangkalan. angkatberita.id
Dunia seni di Bangkalan kini kian terpinggirkan. Drs. Raden Fajar Iriadi Sosro Adiputro, maestro seni rupa (63 th) sekaligus pendiri sanggar lukis “Madurese” , menyuarakan kegelisahan karena pemerintah daerah dinilai tidak memberi ruang bagi seniman lokal untuk berkembang dan berkreasi.
Dalam keterangannya, seniman senior asli Bama ini alias Bangkalan Madura yang sering disapa Ir menganggap pemerintah setempat seakan tutup mata terhadap potensi besar yang dimiliki oleh para pelaku seni Bangkalan khususnya seni rupa.
Salah satu bukti yang diungkap Ir bahwa putra daerah memiliki potensi dalam dunia seni rupa, ia menyebut pada era tahun 80-an salah satu siswa SD Arosbaya waktu itu bernama Pujihari. Namanya sempat mencuat di kalangan seniman lokal bahkan luar daerah dengan karya lukisnya yang menawan. Sebuah lukisan dengan obyek “Ibu Kartini”, seniman cilik ini sempat membawa harum Bangkalan setelah mendapat penghargaan dari pemerintah India.
Tidak hanya itu, Ir menceritakan kondisi masa lalu, seni lukis juga pernah tampil eksis dalam berbagai agenda resmi pemerintah. Kini, situasi berbanding terbalik, seni rupa seperti hilang dari denyut kehidupan masyarakat.
“Nyatanya saat ini semua kegiatan seni saya jalankan sendiri dan dari dompet pribadi. Sampai kapan seniman harus bertahan sendiri tanpa perhatian pemerintah?” ungkapnya di galeri Paseban alun-alun kota, Minggu malam (21/9).
Lebih lanjut dikatakan, potensi yang dimiliki masyarakat Bangkalan dalam berkesenian sangatlah kaya. Namun titisan dan bakat itu saat ini hanya berlabuh dalam jiwa. Seharusnya darah seni itu terus mengalir dan diapresiasikan dalam wujud nyata.
“Kasian banget kalau potensi itu dibekukan tanpa tersalurkan dalam bentuk karya” tandasnya.
Seniman senior itu juga menyinggung pemerintah setempat tentang kesibukannya dengan kegiatan birokrasinya yang diduga hanya bersifat seremonial semata tanpa memperdulikan denyut jiwa para seniman yang kini perlahan tampak akan mati.
Ir menegaskan, pemerintah harus segera bergegas dan membuka ruang dengan memberikan perhatian khusus kepada para seniman di Bangkalan.
Sarannya dengan menggelar pameran, festival, dan program pembinaan generasi muda. Kegiatan rutin seperti itu menurutnya dapat mengasah bakat dan membangkitkan jiwa serta mengangkat nama Bangkalan lewat aktifitas seni dan budaya.
“Kalau pemerintah terus abai, dunia kesenian di Bangkalan akan punah, dan kita akan kehilangan jati diri budaya,” tegas pria berjenggot yang kini sudah memutih.
Dengan pertanyaannya yang menggugah, “apakah pemerintah daerah akan tetap abai dengan panggilan sejarah ini, atau bangkit memberi ruang bagi para seniman Bangkalan agar jiwa serta titisan leluhur terus hidup dan mengalir pada darah generasi muda yang akan datang.?”
Robin







Komentar