SAMPANG, angkatberit.id – Suhu perbincangan publik di Kabupaten Sampang memanas. Sebuah flayer ajakan aksi mogok kerja massal beredar luas di media sosial dan grup percakapan WhatsApp.
Ajakan itu ditujukan untuk seluruh pegawai non ASN kabupaten Sampang, yang direncanakan berlangsung 11–14 Agustus 2025.
Isi flayer tersebut tegas: “Kami pegawai Non ASN Sampang mengajak seluruh pegawai Non ASN melakukan aksi mogok kerja… Aksi ini sebagai respon atas pernyataan Kepala BPPKAD Sampang agar lebih bijak dalam membuat statemen.”
Pemicunya tak lain adalah potongan video pernyataan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Sampang, Hj. Hurun Ien, saat rapat bersama Komisi II DPRD. Dalam penggalan video itu, ia terdengar mengatakan:
“Muncul dari mana ribuan orang ini saya tidak tahu, wong itu semua tidak dibutuhkan. Non ASN itu kan masuk sendiri.”
Potongan kalimat itu langsung menyebar cepat, memantik ketersinggungan ribuan pegawai non ASN yang merasa dilecehkan.
Tak butuh waktu lama, Hurun Ien mengeluarkan pernyataan klarifikasi sekaligus permohonan maaf, ia menegaskan, ucapannya bukan untuk merendahkan atau menghapus keberadaan non ASN, melainkan menyoroti jumlah pegawai yang dinilai terlalu banyak.
“Yang saya maksud, bukan tidak membutuhkan pegawai non ASN sama sekali, tetapi tidak dibutuhkan dalam jumlah sebanyak itu. Saya mohon maaf jika penyampaian saya menimbulkan salah tafsir,” ujarnya, Sabtu (9/8/2025).
Ia menjelaskan, jika seluruh pegawai non ASN diangkat menjadi P3K, akan menambah beban APBD secara signifikan, sementara aturan UU No. 1 Tahun 2022 membatasi belanja pegawai maksimal 30% dari total APBD mulai 2027, data menunjukkan, pegawai non ASN di Sampang saat ini sekitar 2.300 orang.
Meski klarifikasi sudah keluar, gelombang kekecewaan tampaknya belum mereda, ajakan mogok kerja tetap bergulir, menandakan luka hati sebagian pegawai non ASN belum terobati, jika aksi 11–14 Agustus benar terjadi, pelayanan publik di Sampang berpotensi lumpuh sementara.
Kini, bola panas ada di tangan Pemkab Sampang, mampukah mereka meredam gejolak sebelum tanggal mogok tiba, atau justru membiarkan bara kecil ini menjadi kobaran besar?





Komentar