Bangkalan.Angkatberita id
Tiga puluh tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Namun, jarak dan kesibukan ternyata tak mampu menghapus kenangan para alumni SMA Negeri 1 Bangkalan (SMANSABA) angkatan 1993.
Minggu (13/9/2026), suasana penuh keakraban kembali terasa ketika para alumni SMANSABA ’93 berkumpul dalam agenda rutin tahunan sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Bukan sekadar reuni. Pertemuan itu menjadi ruang untuk kembali merajut silaturahmi, berbagi cerita, sekaligus memperkuat kepedulian sosial di antara para alumni yang telah menempuh perjalanan hidup dan karier masing-masing.
“Tak terasa sudah 33 tahun kita meninggalkan bangku sekolah. Dulu kita bersama selama tiga tahun, berkumpul, belajar dan tumbuh bersama. Waktu ternyata tidak memisahkan kita, begitu juga jarak tidak menjadi penghalang. Hari ini kita bisa berkumpul kembali di sini,” ujar Ika Yuliastuti, salah satu panitia mewakili dua rekan panitia lainnya, Emmi Arisanti dan Dyan Eko Sriwidyarti.
Tahun ini, kegiatan digelar di Masjid Ar-Rahman, yang berada di kediaman Hj. Hasizah jalan raya Ketengan Bangkalan. Sejak acara dimulai, suasana terlihat hangat. Para alumni yang datang saling menyapa, bercengkerama dan melepas kerinduan setelah sekian lama tidak bertemu.
Kenangan masa sekolah pun kembali mengalir. Ada cerita lama yang kembali dikenang, ada pengalaman hidup yang dibagikan, dan ada pula kisah perjalanan karier masing-masing alumni setelah puluhan tahun meninggalkan bangku SMANSABA.
Kekuatan kegiatan ini tidak hanya terlihat dari jumlah alumni yang hadir, tetapi juga dari kepedulian mereka untuk terus menjaga tradisi kebersamaan.
Sejumlah alumni yang kini telah meniti berbagai profesi turut memberikan dukungan sebagai donatur dalam penyelenggaraan kegiatan. Di antaranya dr. Priatin Hadi Wijaya, Direktur Panas Bumi; dr. Husnul Ghaib, salah satu kepala bidang di RSUD Dr. Soetomo Surabaya; Kombes Teguh Priyambodo, Kapolrestabes Banda Aceh; Kompol Syafii Bagus di kodam Jambi ; Kolonel Benni hendra suwardi yg bersinas di kodam brawijaya ; Wahid Abdi, Executive Manager Pegadaian, sdr yeyen di Blega juga Mosleh dan Iwan Yudik yang berkarier di Bank Jatim; drh. Sumirah, Kepala Dinas Peternakan; serta Kak Jo yang juga terus memberikan dukungan terhadap kegiatan alumni.
Dukungan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa keberhasilan seseorang tidak lantas membuat hubungan dengan teman-teman masa sekolah menjadi renggang.
Justru, keberhasilan dan profesi yang telah diraih menjadi kekuatan untuk saling mendukung dan memberi manfaat.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Lantunan ayat tersebut memberikan suasana teduh sebelum para alumni mengikuti tausiah Maulid Nabi Muhammad SAW.
Siraman rohani disampaikan Nyai Luluk Latifah. Dalam tausiyahnya, ia mengajak para alumni menjadikan peringatan Maulid Nabi bukan sekadar kegiatan tahunan, tetapi momentum untuk kembali mengingat dan meneladani akhlak Rasulullah SAW.
“Maulid Nabi jangan hanya kita maknai sebagai sebuah peringatan. Yang lebih penting adalah bagaimana keteladanan Rasulullah kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjaga persaudaraan, kekompakan dan kepedulian kepada sesama,” pesan Nyai Luluk.
Menurutnya, kebersamaan tidak cukup hanya dibangun ketika semua berada dalam keadaan senang. Kebersamaan justru memiliki nilai ketika seseorang mampu hadir dan peduli saat orang lain membutuhkan.
“Kalau kita ingin kebersamaan ini tetap kuat, jangan hanya bertemu ketika ada acara. Bangun kepedulian, saling membantu dan jangan membiarkan teman atau saudara menghadapi persoalan seorang diri. Itulah salah satu nilai penting yang bisa kita ambil dari keteladanan Rasulullah SAW,” lanjutnya.
Pesan tersebut seolah menjadi benang merah dalam pertemuan alumni SMANSABA ’93. Setelah 33 tahun, mereka menyadari bahwa yang membuat sebuah persahabatan tetap hidup bukan semata-mata karena sering bertemu, tetapi karena masih ada kepedulian dan rasa memiliki.
Usai tausiah, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah. Dalam suasana santai, sejumlah alumni turut berbagi pengalaman dan memberikan edukasi yang dinilai bermanfaat bagi rekan-rekan lainnya.
Masing-masing memiliki cerita berbeda. Ada yang mengabdi di pemerintahan, dunia kesehatan, kepolisian, perbankan, BUMN hingga bidang profesional lainnya.
Perbedaan profesi tersebut justru menjadi kekayaan tersendiri dalam pertemuan. Pengalaman yang dibagikan menjadi tambahan wawasan sekaligus motivasi bagi sesama alumni.
Suasana semakin meriah ketika panitia membagikan berbagai door prize kepada para alumni. Tradisi yang juga dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya itu membuat suasana semakin cair dan penuh tawa.
Bagi para alumni, hadiah bukanlah hal utama. Yang jauh lebih berharga adalah kesempatan untuk kembali duduk bersama, saling menyapa dan merasakan kembali kehangatan persahabatan yang pernah terjalin sejak duduk di bangku sekolah.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini akhirnya bukan hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat tali silaturahmi alumni SMANSABA ’93.
Tiga puluh tiga tahun setelah meninggalkan sekolah, mereka membuktikan bahwa waktu boleh berjalan, jarak boleh terbentang dan kesibukan boleh berbeda, tetapi persaudaraan tidak harus ikut berakhir dan masih ada orang-orang yang tetap bisa kita sebut sebagai SAHABAT.
#Robin

Komentar