Breaking News

Kata Bupati Fauzi: “Tanpa Data, Pembangunan Bisa Melenceng” Solusinya Desa Cantik

Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo menyalami jajaran kepala OPD sebagai bentuk soliditas sinergi lintas sektor dalam penguatan data desa melalui

Angkat Berita - Redaksi
2 menit baca•84 tayangan

 

Sumenep||angkatberita– Pemerintah Kabupaten Sumenep kembali menorehkan langkah progresif dalam pembangunan desa melalui program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik). Di bawah kepemimpinan Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo, program ini hadir sebagai solusi visioner untuk mencegah kebijakan pembangunan melenceng dari kebutuhan riil masyarakat.

Bupati Fauzi menegaskan bahwa pembangunan yang berkualitas wajib berbasis data yang akurat dan mutakhir. Menurutnya, tanpa data, arah kebijakan berpotensi tidak tepat sasaran.

“Pembangunan tanpa data itu seperti berjalan dalam gelap. Dengan data yang kuat, kita bisa pastikan setiap kebijakan benar-benar berpihak kepada masyarakat,” tegas Bupati Fauzi usai pembahasan program Desa Cantik bersama jajaran OPD, Selasa (5/5/2026).

Program Desa Cantik menjadi cerminan kepemimpinan yang tidak hanya inovatif, tetapi juga strategis dan terukur. Melalui sinergi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep, sejumlah instansi seperti DPMD, Disdukcapil, Bappeda, hingga Diskominfo dilibatkan untuk memperkuat kualitas data desa secara menyeluruh.

Kolaborasi solid ini menunjukkan keseriusan Pemkab Sumenep membangun sistem yang tidak hanya kuat di tataran konsep, tetapi juga efektif dalam implementasi.

Dengan data yang valid, setiap program pembangunan menjadi lebih terarah, terukur, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

“Kalau data kita baik, maka program juga akan tepat. Pelaksanaannya jelas, dan dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Lewat Desa Cantik, desa didorong menjadi lebih mandiri, cerdas, dan adaptif dalam pengambilan keputusan. Data kini tidak lagi sekadar angka, melainkan menjadi instrumen strategis sekaligus “denyut nadi” pembangunan desa.

Pada tahap awal 2026, program ini menyasar tiga desa sebagai percontohan, yakni Desa Ketawang Karay, Desa Bata’al Timur, dan Desa Billapora Barat. Ketiganya diproyeksikan menjadi role model yang menginspirasi desa-desa lain, baik di wilayah daratan maupun kepulauan Sumenep. Imbuhnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Nasional

Artikel Populer