Sampang||angkatberita.id – Dua proyek pembangunan saluran drainase di Desa Baturasang, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang, yang dibiayai dari Dana Desa tahap pertama, kini menuai kritikan tajam dari masyarakat setempat. Proyek-proyek ini dianggap tidak sesuai dengan standar mutu yang diharapkan, setelah ditemukan keretakan yang signifikan pada struktur drainase hanya beberapa bulan setelah penyelesaiannya.
Proyek pertama, pembangunan saluran drainase di Kampung Bungkak Barat, menghabiskan anggaran sebesar Rp 114.959.000. Sementara itu, proyek kedua yang berada di sekitar SDN Batorasang 1 menelan biaya Rp 89.104.100. Kedua proyek ini diharapkan mampu mengatasi masalah saluran air yang kerap menjadi kendala bagi masyarakat, terutama saat musim hujan. Namun, hasil akhir dari proyek ini justru menimbulkan kekhawatiran baru.
Berdasarkan laporan warga dan pemeriksaan lapangan, ditemukan keretakan yang parah pada struktur drainase di kedua lokasi tersebut. Keretakan ini tidak hanya terjadi di permukaan, tetapi juga telah merembes hingga ke dalam lapisan beton. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya masalah serius dalam pelaksanaan pembangunan yang mungkin tidak sesuai dengan prosedur teknis yang seharusnya diikuti.
“Ini tidak bisa dianggap keretakan biasa. Drainase ini baru beberapa bulan selesai, tapi sudah rusak. Kami khawatir nanti musim hujan datang, saluran ini akan hancur,” ujar salah seorang warga Desa Baturasang yang enggan disebutkan namanya. Warga menambahkan bahwa kerusakan ini sangat mengecewakan mengingat besarnya anggaran yang telah dialokasikan untuk proyek tersebut.
Menanggapi keluhan masyarakat, Camat Tambelangan, Syamsul Bahri, menyatakan bahwa pihaknya akan segera menindaklanjuti laporan tersebut.
Dalam pernyataannya, Syamsul Bahri menyebutkan bahwa ia sudah menerima informasi mengenai keretakan yang terjadi dan berjanji akan memanggil Penjabat (PJ) Kepala Desa untuk membahas permasalahan ini serta memastikan perbaikan segera dilakukan. Senin (23/09)
“Ya mas, trims info akan kami tindaklanjuti ke PJ-nya untuk dilakukan perbaikan,” ungkap Syamsul Bahri saat dihubungi.
Pernyataan ini disambut dengan harapan oleh masyarakat, meski masih ada kekhawatiran bahwa langkah perbaikan tidak akan dilakukan dengan cepat atau efektif. Masyarakat berharap pemerintah desa tidak hanya memperbaiki secara estetika, tetapi juga memastikan bahwa standar konstruksi yang benar diterapkan agar masalah serupa tidak terulang di masa depan.
Kasus keretakan proyek drainase di Desa Baturasang ini menyoroti pentingnya pengawasan ketat dalam penggunaan Dana Desa, terutama dalam proyek-proyek infrastruktur. Dengan anggaran yang cukup signifikan, masyarakat berharap agar setiap proyek yang dilaksanakan dapat memberikan manfaat jangka panjang dan berkualitas baik. Namun, keretakan yang terjadi dalam waktu singkat menunjukkan bahwa mungkin ada kelalaian dalam pengawasan ataupun pelaksanaan teknis proyek.
Pihak kecamatan diharapkan lebih aktif dalam memonitor setiap tahap pembangunan yang dibiayai oleh Dana Desa. Selain itu, diperlukan keterbukaan dari pihak pelaksana proyek terkait penggunaan dana dan metode pelaksanaan, agar tidak terjadi penyimpangan yang dapat merugikan masyarakat.
Masyarakat Desa Baturasang kini menunggu tindakan nyata dari pihak pemerintah desa dan kecamatan dalam menangani masalah ini. Jika perbaikan tidak dilakukan segera, dikhawatirkan kerusakan pada saluran drainase akan semakin parah, terutama menjelang musim hujan. Selain itu, masyarakat juga berharap agar permasalahan ini menjadi pelajaran untuk proyek-proyek lainnya di masa depan, agar lebih mengutamakan kualitas dan ketahanan bangunan.
Dengan sorotan yang semakin besar terhadap proyek ini, penting bagi pemerintah desa, kecamatan, serta pihak terkait lainnya untuk mengambil langkah tegas dan memastikan bahwa Dana Desa benar-benar digunakan untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat dengan hasil yang optimal.






Komentar