
Sumenep||angkatberita — Komitmen inklusivitas tak lagi berhenti di balik tembok rumah sakit. RSUD dr. H. Moh. Anwar benar-benar menjemput bola.
Fasilitas ramah difabel seperti jalur pemandu, akses kursi roda, hingga toilet khusus memang sudah tersedia.
Namun, langkah itu kini diperluas, turun langsung memberi penyuluhan kesehatan gratis kepada siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kecamatan Saronggi.
Program perdana Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) tahun 2026 itu disambut antusias para siswa dan guru.
Edukasi dikemas komunikatif dan mudah dipahami, menyesuaikan kebutuhan anak berkebutuhan khusus.
Bagi sekolah, kehadiran tenaga medis bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan bentuk perhatian nyata terhadap kelompok rentan.
Koordinator Tim PKRS, Vinda Sartika Basri, menegaskan kegiatan tersebut bukan agenda seremonial.
“Ini bagian dari strategi promotif dan preventif yang berkelanjutan. Kami ingin menanamkan kesadaran hidup sehat sejak dini, melakukan deteksi dini masalah kesehatan, serta memastikan setiap anak mendapat akses layanan kesehatan yang adil,” tegasnya.
Menurut dia, pendekatan langsung ke sekolah dinilai lebih efektif, nteraksi personal memudahkan penyampaian materi sekaligus membuka ruang konsultasi.
Dukungan guru dan orang tua diharapkan memperkuat penerapan pola hidup sehat dalam keseharian siswa.
Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar melalui Kepala Seksi Informasi, Erfin Sukayati, menambahkan kegiatan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial rumah sakit sebagai institusi pelayanan publik.
“Kami ingin memastikan pelayanan kesehatan merata dan inklusif. Program ini akan terus berlanjut melalui kolaborasi Tim PKRS dan Seksi Rawat Jalan,” jelasnya.
Dalam penyuluhan kali ini, dokter spesialis mata Fardian Yedasukma, memberikan edukasi kesehatan mata dengan metode interaktif.
Materi disampaikan sederhana, disertai praktik ringan agar mudah dipahami siswa. Kepala Seksi Rawat Jalan, Fitri Dwi Cahyani, turut mendampingi sebagai fasilitator.
Langkah jemput bola tersebut menjadi pesan tegas: pelayanan kesehatan inklusif bukan hanya soal fasilitas fisik, tetapi juga keberpihakan nyata pada mereka yang kerap terpinggirkan.








Komentar