SAMPANG (ANGKAT BERITA) Bau janggal menyeruak dari penanganan kasus mobil box bermuatan rokok ilegal yang mengalami kecelakaan di Desa Baruh, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, pada 14 April 2026 lalu.
Di saat identitas sopir masih suram dan belum tersentuh terang penyelidikan, kendaraan yang semestinya menjadi barang penting dalam penelusuran justru dikabarkan sudah tak lagi berada di Satlantas Polres Sampang, Rabu 13/06
Situasi ini bukan sekedar memunculkan tanda tanya, tetapi menampar logika penegakan hukum, bagaimana mungkin sopir yang memegang kunci utama peristiwa belum diketahui, sementara mobil box yang diduga menjadi alat distribusi rokok ilegal justru lebih dulu keluar dari pengamanan?
Dalam konstruksi penanganan perkara, kendaraan pengangkut bukan benda mati tanpa arti Mobil box itu adalah jejak fisik, alat bukti potensial, sekaligus pintu masuk untuk menelusuri siapa pemilik muatan, ke mana jalur distribusi berjalan, dan jaringan siapa yang bermain di belakang pengiriman rokok ilegal tersebut.
Sehari setelah kecelakaan Kasatlantas Polres Sampang AKP Sulaiman menyatakan penanganan perkara dibagi berdasarkan kewenangan “kecelakaan ditangani Satlantas, sedangkan dugaan muatan ilegal menjadi ranah Satreskrim” ujarnya
Namun seiring waktu, publik justru disuguhi ironi penegakan sopir belum diketahui, tetapi keberadaan kendaraan malah tak jelas.
Pernyataan bahwa sopir “masih belum diketahui” setelah kasus bergulir justru mempertebal kesan bahwa ada mata rantai penting yang belum, atau tidak, disentuh serius.
Sebab dalam perkara yang berkaitan dengan dugaan distribusi barang ilegal, hilangnya fokus terhadap kendaraan justru dapat dibaca sebagai longgarnya kontrol terhadap salah satu elemen vital penyidikan.
Pertanyaan sederhana ke mana mobil box itu? Apakah dikeluarkan secara resmi? Siapa yang memberi izin? Atas dasar administrasi apa? Apakah statusnya sudah melalui prosedur hukum yang sah.
Jika kendaraan benar sudah keluar sebelum identitas sopir terungkap terang, maka yang dipertaruhkan bukan hanya soal prosedur, tetapi juga kredibilitas penanganan kasus.
Sebab publik berhak curiga ketika alat angkut dugaan barang ilegal lebih cepat “menghilang” dibanding pengungkapan aktor di balik kemudi.
Kasus ini tak bisa direduksi sekedar sebagai kecelakaan lalu lintas biasa, ini menyentuh dugaan peredaran rokok ilegal wilayah yang semestinya ditangani dengan ketelitian tinggi, bukan meninggalkan ruang abu-abu yang memancing spekulasi.
Ketika sopir tetap misterius, kendaraan tak lagi tampak, dan jalur distribusi belum tergambar utuh, maka wajar jika publik bertanya lebih keras, ini murni kelalaian, lemahnya koordinasi, atau ada sesuatu yang sengaja dibiarkan kabur?





Komentar