
Aceh Timur / angkatberita.id — Kelangkaan pupuk bersubsidi kembali menghantui petani di Kabupaten Aceh Timur. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah jenis pupuk subsidi yang sangat dibutuhkan untuk tanaman padi, jagung, dan komoditas pertanian lainnya dilaporkan menghilang dari pasaran, membuat petani semakin resah.
Kalaupun pupuk tersedia di kecamatan lain, petani terpaksa membelinya dengan harga jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Saat ini, harga pupuk jenis NPK-Urea di tingkat lapangan mencapai kisaran Rp120.000 hingga Rp130.000 per karung, jauh melampaui harga pupuk subsidi yang seharusnya maksimal Rp90.000 per karung.
Hal tersebut disampaikan pemerhati sosial Aceh Timur, Dedi Saputra, SH, usai menerima berbagai keluhan petani dari sejumlah kecamatan di wilayah tersebut.
“Petani sangat mengeluh. Pupuk subsidi langka, sementara harga di luar HET sangat memberatkan. Ini jelas berdampak langsung pada biaya produksi pertanian,” ujar Dedi.
Ia menyebutkan, kelangkaan pupuk terjadi di beberapa kecamatan, antara lain Banda Alam, Idi Tunong, Peudawa, Rantau Peureulak, hingga wilayah barat Aceh Timur. Kondisi ini diduga akibat keterlambatan distribusi dari sejumlah perusahaan pupuk yang memiliki wilayah kerja di Kabupaten Aceh Timur.
Sejumlah petani bahkan mengaku terpaksa membeli pupuk di luar kecamatan domisili dengan harga tinggi demi menyelamatkan tanaman mereka.
“Entah sampai kapan kondisi ini berlangsung. Kami semakin kewalahan dan kecewa, sementara tanaman harus segera dipupuk,” keluh salah seorang petani.
Para petani berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret agar pasokan pupuk kembali normal. Mereka khawatir, jika kondisi ini terus berlarut, akan terjadi gagal panen atau penurunan hasil produksi pertanian.
“Kami berharap kelangkaan pupuk ini segera diatasi, supaya hasil pertanian tidak menurun,” ungkap petani kepada media ini.
Menanggapi kondisi tersebut, Dedi Saputra bersama rekan-rekan media berencana turun langsung ke sejumlah kecamatan untuk melakukan investigasi terkait kelangkaan pupuk dan melonjaknya harga di lapangan.
“Kami akan menelusuri apakah ada permainan distribusi yang menyebabkan petani semakin tertekan,” tegasnya.
Ia juga mendesak Dinas Pertanian dan Penyuluhan Kabupaten Aceh Timur agar tidak tutup mata dan segera turun ke lapangan guna mengatasi persoalan kelangkaan pupuk yang kian meresahkan petani.
“Pemerintah harus hadir dan bertindak cepat. Jangan sampai petani terus menjadi korban,” pungkas Dedi kepada media pada Kamis (5/2/2026).








Komentar