Bangkalan. angkatberita.id
Forum Komunikasi Pemuda Bangkalan (FKPB) yang dipimpin Bung Imam bersama jajaran pengurus menyampaikan kekecewaannya setelah upaya audiensi terkait renovasi gedung SDN Patemon 1, Kecamatan Tanah Merah, tak mendapat respons dari pihak Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Tanah Merah.
FKPB sebelumnya telah mengirim surat resmi pada 13 November untuk melakukan audiensi. Namun, hingga hari pelaksanaan, tidak ada satu pun konfirmasi dari pihak Korwil. Karena itu, FKPB tetap datang ke kantor Korwil pada Rabu (18/11) pukul 10.00 WIB, sesuai jadwal yang mereka tetapkan sendiri.
Sayangnya, setibanya di lokasi, pihak Korwil tidak bisa menerima rombongan FKPB dengan alasan sedang menghadiri kegiatan lomba PGRI. Kondisi ini membuat para pemuda geram karena merasa tak dihargai.
“Kalau memang ada kegiatan mendadak, harusnya diberi tahu sebelum kami datang. Ini menyangkut etika komunikasi dan pelayanan publik,” tegas Bung Imam, Koordinator Bidang Kedaerahan FKPB. (Rabu, 19/11)
FKPB menegaskan bahwa kedatangan mereka bukan untuk mencari masalah, namun hanya ingin diskusi terbuka terkait transparansi renovasi gedung sekolah di SDN Patemon 1. Proyek yang tercatat di sirup.lkpp.go.id tersebut bernilai Rp 294.844.900, sehingga pengawasan publik dinilai penting.
“Kami hanya ingin tahu berapa gedung yang direnovasi. Sebab yang terlihat di lapangan baru satu gedung dengan progres sekitar 80 persen. Kalau memang ada tiga kelas yang dikerjakan, kami khawatir tidak selesai karena ini sudah pertengahan November,” jelas Bung Imam.
FKPB menyebut kekecewaan ini menjadi preseden buruk bagi kemitraan pemerintah daerah dengan masyarakat, khususnya pemuda yang ingin terlibat dalam pengawasan pembangunan pendidikan.
“Pemuda ingin membantu memastikan anggaran berjalan tepat sasaran. Tapi kalau komunikasi seperti ini, bagaimana kami bisa percaya bahwa pembangunan dikelola secara transparan?” sambungnya.
Peristiwa ini muncul pertanyaan mengenai komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan keterbukaan informasi, terutama di sektor pendidikan yang menyentuh masa depan masyarakat Bangkalan.
Retro.

Komentar