SAMPANG ( ANGKAT BERITA) – Memalukan! Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Desa Robatal, Kecamatan Robatal, yang menelan anggaran fantastis sebesar Rp 306.183.000,00 dari APBD 2024 (DAK), menjadi bahan cemoohan masyarakat. Baru selesai dibangun, tandon airnya sudah bocor, memunculkan indikasi kuat bahwa pekerjaan ini hanyalah ajang pemborosan uang rakyat demi keuntungan segelintir pihak.
Proyek yang digarap oleh CV Kehidupan Baru ini, seharusnya memenuhi kebutuhan vital warga akan air bersih. Namun apa yang terjadi? Air justru terbuang sia-sia karena kebocoran. Fakta ini membuat masyarakat mempertanyakan kualitas pengerjaan dan pengawasan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sampang.
“Kami sangat kecewa! Proyek ini terlihat hanya mencari keuntungan besar, tanpa peduli pada kualitas dan kebutuhan rakyat. Jika pengerjaannya seperti ini, apa gunanya?” kecam seorang warga dengan nada geram saat ditemui di lokasi, Kamis (19/12/2024).
Dalam proyek ini, Dinas PUPR seharusnya memastikan setiap detail pekerjaan dilakukan dengan benar, mulai dari pengeboran sumur, pembangunan reservoar, jaringan perpipaan, instalasi listrik, hingga sambungan rumah. Namun hasilnya justru menjadi bukti nyata lemahnya pengawasan.
“Proyek ini seperti kejar tayang demi keuntungan pribadi. Standar material diragukan, dan pengawasan? NOL BESAR!” tegas seorang warga lainnya.
Media telah mencoba menghubungi Kepala Dinas PUPR untuk meminta klarifikasi terkait bocornya tandon ini. Namun, hingga berita ini dirilis, tidak ada tanggapan sama sekali. Sikap diam Dinas PUPR ini dianggap sebagai penghinaan terhadap masyarakat yang telah membiayai proyek tersebut dengan pajak mereka.
“Kalau memang tidak mampu mengawasi proyek seperti ini, lebih baik mundur saja dari jabatan! Uang rakyat bukan untuk dihambur-hamburkan dengan proyek asal-asalan,” seru seorang tokoh masyarakat dengan nada pedas.
Melihat kelalaian dan kebungkaman ini, media berencana melaporkan langsung kasus ini ke DPRD Sampang. Sidak di lokasi proyek menjadi tuntutan utama agar fakta buruk ini segera diungkap ke publik.
“Ini bukan lagi soal kebocoran tandon. Ini soal ketidakpedulian Dinas PUPR terhadap kebutuhan rakyat. Jangan main-main dengan uang rakyat!” pungkasnya.
Kebocoran tandon ini bukan hanya simbol kegagalan teknis, tetapi juga potret kelalaian fatal dari instansi terkait. Jika tidak ada tindakan tegas, ini menjadi bukti bahwa Dinas PUPR Sampang lebih memilih tutup mata daripada bekerja untuk rakyat. Masyarakat kini menuntut pertanggungjawaban nyata, bukan sekadar alasan atau janji palsu.
;;;;;;;








Komentar