LHOKSEUMAWE/angkatberita.id — Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman atau Haji Uma, mendesak pemerintah pusat segera mengusut penyebab kelangkaan semen yang terjadi di Aceh setelah menemukan stok di sejumlah toko bangunan kosong selama hampir dua bulan dan harga melonjak hingga Rp120 ribu per sak.
Desakan itu disampaikan setelah Haji Uma melakukan peninjauan langsung ke sejumlah toko bangunan, distributor semen, dan pelaku proyek konstruksi di Kota Lhokseumawe pada Jumat, 31 Juli 2026. Dari hasil pengecekan tersebut, ia menilai persoalan tidak lagi sebatas kenaikan harga, tetapi telah mengganggu aktivitas pembangunan rumah masyarakat hingga proyek infrastruktur.
“Saya meminta pemerintah segera mengevaluasi tata niaga dan distribusi semen. Kelangkaan dan lonjakan harga ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dampaknya sangat luas bagi masyarakat maupun pembangunan,” kata Haji Uma.
Haji Uma mengaku telah mengirim surat kepada Menteri Perdagangan RI agar pemerintah segera mengambil langkah konkret, mulai dari mengevaluasi sistem distribusi semen, memperketat pengawasan di lapangan, hingga menstabilkan harga agar masyarakat tidak terus dirugikan.
Dalam peninjauan tersebut, Haji Uma mendatangi Toko Bangunan Zahlul Azmi di kawasan Cunda, Lhokseumawe. Pemilik toko, Zahlul Azmi, mengatakan usahanya sudah sekitar dua bulan tidak memperoleh pasokan semen sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan pelanggan.
“Sudah sekitar dua bulan stok semen kosong. Kami berharap pasokan kembali normal dan harga turun lagi di kisaran Rp60 ribu sampai Rp65 ribu per sak agar masyarakat bisa membangun rumah seperti biasa,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, harga semen yang sebelumnya berada pada kisaran Rp63 ribu hingga Rp65 ribu per sak kini melonjak menjadi Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per sak di sejumlah wilayah Aceh.
Distributor semen di Lhokseumawe, Iqbal, mengatakan kelangkaan dipicu tingginya permintaan yang tidak sebanding dengan pasokan dari pabrik. Menurut dia, harga dari pabrik tidak mengalami kenaikan, namun persoalan distribusi dan meningkatnya biaya pengiriman menyebabkan pasokan tidak merata.
“Harga dari pabrik relatif tetap. Yang menjadi persoalan adalah distribusi sehingga barang sulit diperoleh di sejumlah daerah,” katanya.
Lonjakan harga juga berdampak terhadap proyek konstruksi. Mulyadi, tim logistik lapangan proyek Tower Radar Kota Lhokseumawe, mengatakan harga semen yang sebelumnya sekitar Rp71 ribu kini mencapai Rp110 ribu hingga Rp120 ribu per sak.
“Kami tetap harus mengejar target pekerjaan. Namun kenaikan harga hampir dua kali lipat membuat anggaran proyek yang telah disusun menjadi tidak sesuai dengan kondisi di lapangan,” ujarnya.
Berdasarkan temuan lapangan tersebut, Haji Uma meminta Kementerian Perdagangan memperketat pengawasan distribusi semen mulai dari produsen, agen, hingga pemasok. Ia juga mendorong pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebagai acuan untuk mencegah lonjakan harga di tingkat konsumen.
Selain itu, ia meminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengevaluasi produksi dan distribusi PT Solusi Bangun Andalas yang beroperasi di Aceh.
“Aceh memiliki pabrik semen, tetapi masyarakat justru mengalami kelangkaan dan membeli dengan harga jauh lebih mahal. Pemerintah harus memastikan apakah persoalannya berada pada sisi produksi, distribusi, atau faktor lainnya,” kata Haji Uma.
Ia juga mendesak Kepolisian RI dan Kejaksaan RI menyelidiki apabila ditemukan indikasi penimbunan, permainan distribusi, maupun praktik lain yang menyebabkan pasokan semen terganggu.
“Jika ada dugaan permainan distribusi atau praktik yang merugikan masyarakat dan menghambat pembangunan, harus diusut tuntas sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” ujarnya.
Haji Uma berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah cepat agar pasokan semen kembali normal, harga terkendali, serta pembangunan rumah masyarakat dan proyek infrastruktur di Aceh tidak terus terganggu akibat kelangkaan material bangunan.






Komentar