Sumenep||angkatberita – Memasuki musim kemarau yang puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep mengeluarkan imbauan tegas, stop bakar sampah dan pembakaran lahan.
Kepala BPBD Sumenep, Achmad Laily Maulidi, menegaskan bahwa aktivitas pembakaran terbuka menjadi pemicu utama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat kondisi vegetasi mengering dan suhu udara meningkat.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran terbuka, termasuk membakar sampah maupun membersihkan lahan dengan cara dibakar. Tindakan yang tampak sederhana dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan ketika kondisi lingkungan sedang sangat kering,” tegas Achmad Laily Maulidi, Selasa (09/06/2026).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memperkirakan masa pancaroba telah berakhir pada periode April hingga Mei 2026. Memasuki Juni, sejumlah wilayah mulai memasuki musim kemarau dengan puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus mendatang.
Menurut Achmad, musim kemarau bukan hanya soal berkurangnya curah hujan, tapi juga membawa risiko berlapis jika tidak diantisipasi sejak dini. Selain karhutla, ancaman lain yang mengintai adalah krisis air bersih dan gangguan kesehatan akibat debu serta asap.
“Musim kemarau merupakan kondisi yang harus dihadapi dengan kesiapsiagaan bersama. Semakin dini langkah antisipasi dilakukan, semakin kecil pula risiko yang dapat ditimbulkan, baik terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, maupun aktivitas ekonomi,” ujarnya.
BPBD Sumenep juga mengingatkan pentingnya pengelolaan sumber daya air secara bijak. Penggunaan air yang berlebihan selama musim kemarau berpotensi mempercepat terjadinya krisis air bersih, terutama di wilayah yang selama ini rawan kekeringan.
Masyarakat diimbau untuk mulai menerapkan pola hidup hemat air, memperbaiki saluran yang bocor, serta memanfaatkan sumber air secara efisien untuk kebutuhan sehari-hari maupun kegiatan pertanian.
“Ketersediaan air bersih menjadi salah satu aspek yang harus dijaga bersama. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan menghindari pemborosan agar cadangan air tetap mencukupi hingga puncak musim kemarau,” kata Achmad.
Di sektor pertanian, para petani didorong untuk menerapkan sistem irigasi yang efisien serta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca. Langkah ini penting untuk menjaga produktivitas dan mengurangi risiko gagal panen akibat kekurangan pasokan air.
BPBD meminta masyarakat aktif memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG maupun instansi terkait. Informasi tersebut dapat menjadi dasar mengambil langkah mitigasi sebelum risiko berkembang menjadi bencana.
“Kunci utama menghadapi musim kemarau adalah kesadaran dan partisipasi seluruh elemen masyarakat. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dengan kerja sama yang baik, kita dapat meminimalkan dampak kekeringan, kebakaran, maupun gangguan kesehatan,” tegasnya.
BPBD Sumenep menegaskan akan terus melakukan pemantauan kondisi lapangan serta memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak guna memastikan kesiapsiagaan daerah menghadapi puncak musim kemarau pada Agustus mendatang.
“Melalui langkah antisipatif dan kepedulian bersama, dampak musim kemarau diharapkan dapat ditekan sehingga aktivitas masyarakat tetap berjalan dengan aman, nyaman, dan produktif,” pungkas Achmad Laily Maulidi.







Komentar